Arab Saudi Sebut Iran Dalang di Balik Serangan Houthi
Pemerintah Arab Saudi menuding Iran sebagai dalang yang mendorong kelomok Houthi untuk meningkatkan serangan ke negaranya hingga mempersenjatai kelompok tersebut

Riyadh, VIVA – Pemerintah Arab Saudi menuding Iran sebagai dalang yang mendorong kelomok Houthi untuk meningkatkan serangan ke negaranya. Tak hanya itu saja, Arab juga menuding Iran masih terus mempersenjatai dan melatih Houthi.
Dalam pengarahan virtual bersama sejumlah wartawan, termasuk jurnalis AFP, Wakil Menteri Luar Negeri Arab Saudi bidang Diplomasi Publik mengatakan bahwa Riyadh masih menjalin komunikasi dengan Iran. Namun, Teheran dinilai belum menunjukkan kesiapan untuk memberikan konsesi yang diperlukan guna menyelesaikan konflik.
Sebagaimana diketahui, Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir terus menjadi sasaran serangan Houthi. Situasi ini turut mengalihkan perhatian dalam perang Timur Tengah yang pecah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu.
Arab Saudi juga telah melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah basis Houthi di Yaman. Namun, kelompok militan yang didukung Iran itu belum menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan serangannya.
"Iran terus mempersenjatai, melatih, dan mendukung milisi Houthi, yang merupakan pelanggaran terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB. Kami menilai peningkatan eskalasi yang dilakukan Houthi pada tahap terbaru konflik ini didorong oleh Iran,"kata Wakil Menteri Rayed Krimly dikutip dari laman The Economic Times, Jumat (16/10/2026).
Pada 2023, Iran dan Arab Saudi, dua negara yang selama bertahun-tahun bersaing dalam pengaruh regional, mencapai kesepakatan yang dimediasi China untuk memperbaiki hubungan diplomatik mereka. Namun, kekerasan terbaru berpotensi merusak kesepakatan tersebut.
Pejabat Arab Saudi itu juga menuduh Houthi menolak pertemuan di Oman dalam beberapa pekan terakhir, ketika pertempuran antara kedua pihak semakin intensif.
"Pada awal eskalasi ini, kami meminta mereka bertemu di Muscat, Oman, tetapi mereka menolak. Komunikasi tersebut merupakan yang terakhir terjadi beberapa pekan lalu," kata Krimly.
Pada Sabtu (10/10), sebuah serangan menghantam bandara internasional di Riyadh, menewaskan 13 orang dan melukai sekitar 300 lainnya. Serangan tersebut menjadi yang paling mematikan di Arab Saudi dalam satu dekade terakhir.
Koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi Houthi pada Kamis menyatakan bahwa kelompok tersebut telah menyerang bandara Riyadh sebanyak 20 kali sepanjang Oktober.
Sumber: VIVA.co.id. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
500 Ribu Orang Diperkirakan Ikuti Demonstrasi Nasional di Prancis Hari Ini
Sebanyak 500.000 orang diperkirakan mengikuti demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Prancis hari ini, Sabtu (31/10/2026), untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Pemerintah Prancis menyiapkan sekitar...
TechConnect Gelar Liga Matematika Nasional Berhadiah Rp 1 Miliar
TechConnect menggelar The Genius Math League 2026 untuk menjaring talenta matematika dari SD hingga mahasiswa dengan total hadiah Rp 1 miliar.
Harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam enam bulan di tengah kekhawatiran atas situasi AS-Iran.
Menjelang akhir pekan, harga minyak berbalik arah dan melonjak ke level tertinggi sejak akhir April 2026, karena kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran dapat meningkat...