Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Timur Tengah

Arab Saudi Perluas Jalur Ekspor Minyak di Tengah Ketidakpastian Timur Tengah

Arab Saudi menargetkan kapasitas pipa minyak mencapai 10 juta barel per hari untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. Dampaknya terhadap harga minyak masih terbatas.

Sumber foto: TIMES Indonesia

JAKARTA – Arab Saudi berencana meningkatkan kapasitas pengiriman minyak mentah melalui jalur pipa alternatif hingga 10 juta barel per hari. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi global dan menghadapi gangguan keamanan akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

Direktur Utama Saudi Aramco, Amin Nasser, mengatakan perusahaan tengah mengupayakan peningkatan kapasitas Pipa Minyak Timur-Barat atau East-West Pipeline dari sekitar 7 juta menjadi 10 juta barel per hari. Pengembangan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun.

Pipa yang dikenal sebagai Petroline itu membentang sekitar 1.200 kilometer, menghubungkan pusat pengolahan minyak Abqaiq di wilayah timur Arab Saudi dengan pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah.

Sebelum konflik mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, pipa tersebut biasanya mengalirkan sekitar 2 juta barel minyak per hari. Namun, Arab Saudi meningkatkan penggunaannya untuk menjaga distribusi minyak ketika jalur laut di Teluk Persia menghadapi risiko keamanan.

Kapasitas pipa saat ini mencapai sekitar 7 juta barel per hari. Dari jumlah tersebut, sebagian minyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan kilang domestik, sedangkan sisanya dapat dikirim ke pasar internasional.

Pemerintah Arab Saudi juga mempertimbangkan penggunaan jalur pipa gas untuk sementara mengangkut minyak mentah. Skema tersebut berpotensi menambah kapasitas pengiriman hingga 1,2 juta barel per hari dalam waktu sekitar tujuh hingga delapan minggu. Pengembangan lebih lanjut dapat meningkatkan tambahan kapasitas hingga 3 juta barel per hari.

Meski berpotensi memperlancar distribusi, peningkatan kapasitas pipa belum tentu langsung menurunkan harga minyak dunia secara signifikan.

Gilbert Metcalf, profesor tamu di MIT Sloan School of Management sekaligus mantan pejabat Departemen Keuangan Amerika Serikat, menilai tambahan pasokan melalui jalur tersebut berpotensi meningkatkan volume minyak yang masuk ke pasar global sekitar 2 persen.

Namun, dampaknya tetap bergantung pada kondisi pasokan, kemampuan kilang mengolah minyak, serta keamanan infrastruktur energi Arab Saudi.

Pipa Timur-Barat juga memiliki risiko serangan drone dan rudal. Dalam beberapa bulan terakhir, jalur tersebut dilaporkan mengalami sejumlah gangguan akibat serangan terhadap fasilitas pemompaan. Ancaman keamanan di kawasan Laut Merah turut menjadi tantangan bagi pengiriman minyak melalui pelabuhan Yanbu.

Pengembangan jalur alternatif tidak serta-merta menghilangkan peran Selat Hormuz dalam perdagangan energi dunia. Jalur tersebut tetap menjadi salah satu titik transit utama minyak mentah dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.

Karena itu, Arab Saudi menghadapi tantangan ganda: memperluas kapasitas distribusi melalui pipa sekaligus menjaga keamanan fasilitas produksi dan jalur pelayaran.

Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya jangka panjang kerajaan untuk menjaga kelangsungan ekspor minyak di tengah ketidakpastian geopolitik. Namun, pengaruhnya terhadap harga energi global masih bergantung pada perkembangan konflik dan kondisi pasokan dunia. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!Klik 👉 Channel TIMES IndonesiaPastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Sumber: TIMES Indonesia. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with