Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Perang

Al-Ghazali vs Ibnu Sina: Perang Epistemik yang Belum Selesai – kumparan.com

Perang epistemik Al-Ghazali vs Ibnu Sina: batas akal, kausalitas, okasionalisme, dan relevansinya bagi manusia modern yang hidup di dua dunia.

Al-Ghazali menyerang blind spot itu. Bukan karena ia bodoh. Justru karena ia tahu persis batas akal. Ia master filsafat, ahli hukum, teolog, pakar logika. Ia menyerang rasionalisme dari dalam. Itulah yang membuat serangannya mematikan.

Pertanyaannya sederhana tapi mengganggu: atas dasar apa akal diangkat menjadi hakim tertinggi atas realitas? Akal tidak pernah bisa membuktikan validitas dirinya sendiri tanpa berputar dalam lingkaran asumsinya.

Setiap sistem rasional selalu berakhir pada titik di mana ia harus berkata: "ini sudah jelas dengan sendirinya." Tapi "jelas dengan sendirinya" bukan argumen. Itu pengakuan terselubung bahwa akal punya batas.

Abad keemasan Islam, rasionalisme berjaya. Ibnu Sina membangun sistem yang luar biasa rapi: alam mengalir dari Tuhan secara niscaya, sebab menghasilkan akibat secara pasti. Sistem ini membuat sains mungkin. Tapi Al-Ghazali melihat harganya: Tuhan menjadi terikat, kehendak bebas Ilahi menjadi ilusi, dan manusia diam-diam menempatkan pikirannya sendiri sebagai ukuran tertinggi atas apa yang mungkin bagi Tuhan.

Ini bukan debat teknis. Ini benturan eksistensial. Apakah alam bergerak otomatis oleh hukum kaku, atau dihidupkan kehendak Tuhan setiap detik? Apakah keselamatan dicapai lewat logika, atau lewat pencarian spiritual?

Ini inti pertarungan. Al-Ghazali menolak hubungan niscaya antara sebab dan akibat. Ibnu Sina membutuhkan kausalitas niscaya agar sains mungkin. Al-Ghazali tidak menolak keteraturan. Ia menolak keniscayaan ontologisnya.

Bahayanya teologis. Jika alam berjalan melalui hukum rasional yang niscaya, Tuhan terikat. Kehendak bebas Ilahi menjadi ilusi. Tuhan bukan lagi penguasa. Tuhan hanya prinsip logis. Dan jika Tuhan wajib bertindak sesuai hukum rasio, maka hukum rasio lebih tinggi dari Tuhan. Padahal hukum rasio dirumuskan pikiran manusia yang terbatas.

Apa yang kita sebut hukum sebab-akibat hanyalah kebiasaan persepsi. Kita melihat api menyentuh kapas, kapas terbakar, berulang. Pikiran yang malas melompat pada kesimpulan: api penyebab mutlak. Padahal pengulangan tidak sama dengan keniscayaan. Tuhan sanggup menciptakan kapas tetap utuh meski dikepung api. Tidak ada kontradiksi logika di sana. Kontradiksi hanya ada bagi akal yang sombong dan memaksakan hukum pikirannya pada kehendak Ilahi.

Api tidak harus membakar. Obat tidak harus menyembuhkan. Pisau tidak harus memotong. Secara empiris hubungan itu teramati. Tapi itu tidak membuktikan hubungan itu niscaya dalam hakikat realitas.

Dari sini lahir okasionalisme. Setiap peristiwa adalah tindakan langsung Tuhan pada setiap momen. Keteraturan bukan sifat asli alam. Keteraturan adalah kebiasaan ilahi. Setiap momen diciptakan kembali.

Konsekuensinya bagi sains besar. Jika hubungan antar peristiwa tidak niscaya, akal kehilangan pijakan metafisik. Pengetahuan bergeser dari absolut menjadi operasional. Kita hanya tahu apa yang biasanya terjadi, bukan apa yang harus terjadi.

Di sini Al-Ghazali membuka jurang skeptisisme. Ia membebaskan Tuhan dari belenggu rasionalitas. Tapi ia juga mencabut jaminan bahwa dunia bisa dipahami secara utuh oleh akal. Sains tetap jalan. Tapi sains berjalan di atas kebiasaan, bukan kepastian ontologis.

Ketika logika menjadi hakim tertinggi, logika memenjarakan Tuhan. Manusia berani berfatwa: Tuhan tidak mungkin ini, Tuhan harus begitu. Baginya ini kesombongan intelektual paling halus.

Puncaknya *Tahafut al-Falasifah*. Ia menyusun 20 doktrin filsafat bermasalah. Lalu ia memisahkan kesalahan filosofis biasa dari kekufuran teologis. Ia menunjuk tiga doktrin Ibnu Sina dan Al-Farabi yang melampaui batas iman.

Ibnu Sina percaya pengetahuan rasional menyempurnakan jiwa. Al-Ghazali menolak. Jika pengetahuan satu-satunya sarana penyempurnaan, kegagalan manusia direduksi menjadi ketidaktahuan. Itu salah. Banyak orang terpelajar jiwanya rapuh, ego tinggi, hati gelisah.

Masalahnya bukan argumen filsafat salah. Masalahnya harapan yang salah. Ketika ilmu dianggap otomatis menghasilkan kebenaran batin, ilmu justru memperkuat ego. Ilmu menjadi tirai yang menutupi kebenaran.

Al-Ghazali membedakan pengetahuan diskursif dan makrifat. Pengetahuan diskursif bekerja pada konsep, definisi, silogisme. Seseorang bisa menjelaskan kebaikan tanpa menjadi baik. Bisa membahas Tuhan tanpa dekat dengan-Nya.

Makrifat adalah transformasi batin. Bukan lewat silogisme, tapi lewat pembersihan jiwa. Kebenaran bukan objek pemikiran di luar diri. Kebenaran menjadi keadaan hidup di dalam batin. Bahaya filsafat: membuat orang merasa sudah sampai, padahal belum berangkat.

Hari ini kita hidup di dunia Ibnu Sina secara operasional. Kita mengandalkan keteraturan, prediksi, rasionalitas. Sains, teknologi, kedokteran modern. Tanpa asumsi rasional, tidak ada peradaban teknis.

Tapi dalam kecemasan terdalam, kita hidup di dunia Al-Ghazali. Kita tidak percaya pengetahuan rasional semata menyelamatkan jiwa. Kita tahu memahami tidak sama dengan menjadi bijaksana. Kita curiga rasionalitas bisa dingin, kosong, menipu. Kita mencari makna batin, bukan hanya penjelasan teknis.

Tragedi sejarah ini bukan Ibnu Sina kalah atau Al-Ghazali menang. Tragedinya: dialog langsung antara dua pikiran terbesar ini terhenti terlalu cepat. Kita mewarisi perpecahan, bukan sintesis.

Yang kita butuhkan bukan slogan "akal dan iman itu dua sayap." Yang kita butuhkan adalah kejujuran tentang batas akal, tanpa menyerah pada anti-rasionalisme. Tanpa itu, perang epistemik ini tidak akan pernah selesai.

Sumber: Kumparan.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with