Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Arab Saudi

Al-Azhar Serukan Pembentukan Komite Mediasi Arab-Islam untuk Akhiri Konflik Kawasan

Islami.co (Kairo) — Al-Azhar mendesak negara-negara Arab dan Islam agar segera membentuk komite mediasi untuk meredam konflik di kawasan. Seruan ini

Sumber foto: Islami[dot]co

Islami.co (Kairo) — Al-Azhar mendesak negara-negara Arab dan Islam agar segera membentuk komite mediasi untuk meredam konflik di kawasan. Seruan ini muncul ketika pertempuran antara Arab Saudi dan milisi Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran kian memanas.

Seruan itu disampaikan Grand Syekh Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmad al-Thayyib, lewat pernyataan resmi pada Minggu (18/10/2026). Ia mengajak para pemimpin Arab dan Muslim untuk “menjunjung semangat persaudaraan serta ikatan agama, darah, dan bahasa; mendahulukan kebijaksanaan; serta mengedepankan akal sehat dan dialog.”

“Penghentian segera dan menyeluruh atas segala bentuk perang, pertempuran, perusakan, dan sabotase yang menguras sumber daya rakyat dan merenggut nyawa orang-orang tak berdosa,” seru al-Thayyib dikutip dari The National.

Menurut al-Thayyib, perpecahan dan pertikaian internal telah melemahkan dunia Arab dan Islam. Konflik itu menggerus keamanan dan kedaulatan, serta menguras sumber daya umat, justru ketika persatuan sedang sangat dibutuhkan.

Al-Azhar mengusulkan agar komite itu diisi tokoh-tokoh yang bijak dan tulus dari berbagai negara Arab dan Islam. Tugasnya meredakan krisis, menjembatani perbedaan, dan menyelesaikan sengketa. Tujuannya menjaga kedaulatan negara-negara Arab, melindungi nyawa, serta mengamankan sumber daya dan masa depan rakyatnya. Al-Azhar menyatakan siap memberi dukungan penuh. Lembaga itu juga yakin para pihak mampu mengatasi perbedaan dan membuka lembaran baru demi perdamaian.

The National mencatat bahwa Al-Azhar, lembaga berusia lebih dari seribu tahun, punya bobot besar di kalangan Muslim Sunni, dan al-Thayyib sendiri populer di dunia Arab dan Islam. Meski begitu, media tersebut menilai Al-Azhar jarang terjun langsung ke urusan politik dan diplomasi. Karena itu, seruan ini kemungkinan besar akan lebih dipandang sebagai gestur simbolis.

Pada hari yang sama, badan keamanan tertinggi Mesir menyatakan siap memberikan “segala bentuk dukungan yang diperlukan dan memungkinkan” kepada Arab Saudi. Pertemuan badan itu digelar beberapa jam sebelum parlemen Mesir dijadwalkan membahas pemberian kewenangan kepada Presiden Abdel Fattah al-Sisi untuk membantu mempertahankan Saudi dari serangan Houthi. Menurut laporan tersebut, parlemen akan bersidang dua hari lagi untuk membahas hal ini.

Pada Minggu itu, menurut Pertahanan Sipil Saudi, sebuah proyektil Houthi menghantam permukiman di Najran. Enam orang terluka, serta tiga rumah dan tiga kendaraan rusak. Koalisi pimpinan Saudi melaporkan telah menembak jatuh dua rudal balistik yang mengarah ke Khamis Mushait, serta tiga drone di atas Riyadh dan Provinsi Timur.

Juru bicara koalisi, Mayjen Turki al-Maliki, menyebut Houthi telah melancarkan 20 serangan ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh sejak 1 Oktober. Serangan ke bandara-bandara Saudi telah menewaskan 19 orang dan melukai 364 lainnya. Serangan paling mematikan terjadi pada 10 Oktober di Riyadh dan menewaskan 13 orang, termasuk seorang pramugari asal Mesir.

Sumber: Islami[dot]co. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with