Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Nasional

Airlangga Nilai Gejolak Pasar Modal Tak Ganggu Ekonomi Nasional

Airlangga Hartarto menilai gejolak pasar modal akibat sentimen MSCI tidak mengganggu ekonomi nasional, sementara IHSG menguat dan pelemahan rupiah mereda.

Sumber foto: www.suaralandak.co.id

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai gejolak pasar modal akibat sentimen MSCI tidak mengganggu perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Berbicara di Istana Negara pada Rabu (21/10/2026), Airlangga menyebut kebijakan pemerintah untuk menenangkan pasar mulai menunjukkan hasil, ditandai penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan meredanya tekanan terhadap rupiah, dilansir dari Suara.

Airlangga menjelaskan bahwa dinamika pasar keuangan, termasuk sentimen negatif terkait MSCI, tidak dapat menjadi satu-satunya indikator untuk menilai kondisi ekonomi nasional. Ia juga menyoroti penilaian dari lembaga pemeringkat lain sebagai pertimbangan dalam melihat perekonomian Indonesia.

"Memang dari segi sentimen seperti yang kemarin dibahas, ada riak-riak seperti MSCI, tetapi itu bukan sesuatu yang mengganggu secara keseluruhan dan banyak lembaga pemeringkat lain juga bisa menilai perekonomian kita," ujar Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Menurut Airlangga, langkah otoritas merespons kekhawatiran investor turut mendukung perbaikan kondisi pasar. Pergerakan IHSG kembali memasuki zona penguatan, sedangkan pelemahan nilai tukar rupiah mulai melambat.

"Ya, tentu begini, kita menenangkan pasar dan hari ini kita lihat juga sudah berada di jalur hijau. Nilai rupiah sekarang juga sudah sedikit melandai," jelas Airlangga.

Di tengah ketidakpastian global, pemerintah juga memperkuat hubungan perdagangan dengan mitra internasional. Indonesia telah menjalin Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat serta Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dengan Uni Eropa untuk memperluas akses pasar.

Airlangga menilai kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia mempertahankan hubungan dagang di tengah situasi internasional yang tidak menentu. Kedua perjanjian itu melibatkan mitra ekonomi utama Indonesia, yakni Amerika Serikat dan Uni Eropa.

"Dengan Amerika kita sudah memiliki ART, dengan Eropa kita memiliki IEU-CEPA. Jadi, di tengah situasi yang tidak menentu ini, Indonesia bisa memastikan kerja sama dan membuka akses pasar secara luas," ungkap Airlangga.

Ia juga meminta pelaku usaha dan pemangku kepentingan bekerja sama menghadapi ketidakpastian global yang diperkirakan berlanjut hingga tahun depan. Menurut Airlangga, kondisi geopolitik masih menjadi tantangan ketika memasuki periode tersebut.

"Karena situasi geopolitik tidak akan berubah untuk memasuki tahun depan," kata Airlangga.

Sebelumnya, pasar saham Indonesia mengalami tekanan setelah MSCI mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market atau pasar berkembang menjadi standalone market atau pasar mandiri.

Berdasarkan catatan pergerakan IHSG, indeks anjlok 11,57 persen ke level 5.185,10 pada penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026). Tekanan berlanjut pada Senin (19/10/2026), ketika IHSG turun 3,64 persen ke level 4.996,61.

Pada Selasa (20/10/2026), IHSG berbalik menguat 5,65 persen hingga mencapai level 5.278. Pergerakan tersebut terjadi sebelum Airlangga menyampaikan penilaiannya mengenai dampak gejolak pasar modal terhadap perekonomian nasional pada Rabu (21/10/2026).

Sumber: www.suaralandak.co.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with