Menlu AS Sebut Trump Prioritaskan Jalur Damai di Tengah Persiapan Serangan Lanjutan
AS tegaskan ingin jalur damai dengan Iran, namun persiapan militer pasca-pemilu menyelimuti kawasan. Iran ancam balasan tanpa batas.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) Marco Rubio menyatakan Presiden AS Donald Trump sejatinya berkeinginan menyelesaikan konflik dengan Iran melalui alur diplomatik dan sebisa mungkin menghindari penggunaan kekuatan militer.
Meski demikian, eskalasi di lapangan terus memanas menyusul persiapan armada militer kedua pihak yang mengindikasikan kemungkinan potensi pertempuran susulan pasca-pemilihan umum sela (midterm elections), sebagaimana dikutip CNBC internasional pada Senin (2/11/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Rubio kepada awak media di sela-sela agenda diplomatiknya. Ia menekankan bahwa prioritas utama Gedung Putih adalah penyelesaian secara damai, sekalipun AS siap mengambil tindakan tegas jika opsi diplomasi menemui jalan buntu.
"Belum ada keputusan akhir yang diambil… Presiden menyampaikan keyakinan yang sangat besar bahwa jika kita memang perlu mengambil tindakan militer, kita memiliki kemampuan penuh dan segala sumber daya yang dibutuhkan untuk sukses. Namun, kami jauh lebih memilih untuk menyelesaikannya secara damai," ujar Rubio.
Pernyataan Rubio mengemuka di tengah maraknya laporan intelijen mengenai pergerakan militer di kawasan. Sejumlah media terkemuka, seperti The Wall Street Journal dan The New York Times, melaporkan militer AS tengah bersiap mengantisipasi kemungkinan melancarkan serangan udara balasan atau operasi udara baru setelah berlangsungnya pemilu sela pada 3 November 2026 waktu setempat.
Menanggapi ketegangan tersebut, Trump memberikan pernyataan tegas saat diwawancarai oleh Right Side Broadcasting Network.
"Kita telah meraih kemenangan besar, dan kita akan mengakhirinya segera, dengan satu atau lain cara. Antara mereka bersedia membuat kesepakatan, atau kita sendiri yang akan mengakhirinya," tegas Trump.
Respon Keras Iran dan Penetapan Target Baru
Di kubu berseberangan, Pemimpin Agung Iran Mojtaba Khamenei menginstruksikan seluruh jajaran Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran untuk bersiap menghadapi segala bentuk dan tingkat ancaman. Ia memandatkan agar serangan balasan dilakukan secara mendadak, berdampak luas, dan tanpa batasan geografis jika pihak musuh kembali melancarkan aksi militer.
Khamenei juga memerintahkan peremajaan basis data intelijen militer Iran secara masif. Pembaruan data ini bertujuan menempatkan seluruh aset fisik maupun non-fisik milik sekutu "AS-Zionis" (merujuk pada kekuatan militer AS dan Israel) ke dalam jangkauan sasaran tembak pasukan Iran.
Tak hanya membidik AS dan Iran, konflik ini kian meluas ke negara-negara Barat lainnya. Kementerian Luar Negeri Iran secara resmi memasukkan Badan Intelijen Militer Inggris (UK Military Intelligence Services) ke dalam daftar "kelompok bermusuhan" (hostile group). Pihak Iran juga menuding Angkatan Laut dan Angkatan Udara Kerajaan Inggris turut menyokong organisasi teroris.
Melalui saluran resminya di Telegram, otoritas diplomatik Iran menegaskan penetapan status ini merupakan langkah balasan atas kebijakan "jahat" London, khususnya pasca-keputusan Inggris memasukkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ke dalam daftar organisasi teroris.
Iran menuduh Inggris terlibat langsung dalam perang AS-Iran dengan memberikan izin akses logistik dan penggunaan pangkalan militer Inggris bagi jet-jet tempur AS.
Menurut laporan BBC internasional, Inggris memang memberikan izin terbatas bagi pasukan AS untuk menggunakan basis militer RAF Fairford dan Diego Garcia untuk apa yang diklaim sebagai operasi serangan bersifat "defensif" terhadap infrastruktur militer Iran.
Ketegangan yang menyelimuti kawasan Timur Tengah saat ini merupakan puncak dari konfrontasi militer panjang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Gesekan ini makin kompleks seiring berjalannya proses transisi kepemimpinan di Iran pasca-terpilihnya Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung Iran pada Maret 2026. Penunjukan figur dengan latar belakang faksi garis keras ini makin mempertegas konsolidasi kekuatan militer Iran dalam menanggapi tekanan embargo dan doktrin pertahanan jarak jauh (forward defense).
Di sisi lain, keterlibatan sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) seperti Inggris di kawasan Selat Hormuz dan Samudra Hindia terus menjadi sorotan tajam
Penggunaan pangkalan udara strategis Diego Garcia serta basis RAF Fairford oleh pesawat pembom jarak jauh AS selalu menjadi titik sensitif. Bagi Iran, bantuan logistik dan fasilitasi pangkalan pertahanan oleh London dianggap sebagai bentuk keterlibatan langsung dalam konfrontasi militer, yang mengubah eskalasi konflik dari sekadar perselisihan bilateral menjadi krisis geopolitik multinasional.
Sumber: investor.id. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
BRI Perluas Pembiayaan untuk Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
BRI memperluas pembiayaan sektor pangan dari hulu hingga hilir dengan 75,1% portofolio kredit disalurkan kepada UMKM hingga Triwulan II 2026.
Liga Arab desak penyelidikan internasional terhadap penyiksaan tahanan Gaza
Liga Arab, Minggu (1/11), menyerukan penyelidikan internasional yang independen terhadap penyiksaan dan pelecehan sistematis terhadap warga Palestina dari Gaza yang ditahan di ANTARA News...
[KLARIFIKASI] Video Demonstran Kibarkan Bendera Palestina di Menara Pisa Terjadi 2023
Beredar video yang secara keliru mengeklaim para demonstran mengibarkan bendera Palestina di Menara Pisa. Simak hasil penelusuran faktanya.
Trump Incar Target Baru di Iran, Mojtaba Khamenei Peringatkan AS Perang Bisa Lebih Panjang
Iran memperingatkan bahwa perang baru dengan AS bisa berlangsung lebih lama dibandingkan konflik sebelumnya. Pernyataan ini merupakan respon atas sikap Trump soal Iran