Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Iran

Iran Tolak Dialog Langsung AS Saat Trump Pertimbangkan Serangan

Iran menegaskan belum berencana berunding langsung dengan AS meski menerima pesan JD Vance. Trump belum memutuskan kemungkinan serangan militer baru.

Sumber foto: Limapagi

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah Teheran menyatakan belum berencana mengadakan pembicaraan langsung dengan Washington, meskipun telah menerima pesan dari Wakil Presiden AS JD Vance. Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Sabtu (31/10/2026) muncul ketika kedua negara masih menghadapi kebuntuan diplomatik dan ketidakpastian mengenai kemungkinan serangan militer baru.

Menurut kantor berita resmi Iran, IRNA, pesan Vance telah dipelajari secara saksama oleh otoritas Iran. Namun, keputusan mengenai langkah diplomatik berikutnya masih berada dalam pembahasan pihak berwenang.

Media pemerintah Iran, Tasnim News Agency, sebelumnya mengonfirmasi penerimaan surat tersebut pada Jumat (30/10/2026), tanpa mengungkapkan isinya.

"Iran telah menerima surat tersebut, tetapi belum menanggapinya," demikian laporan Tasnim News Agency.

Araghchi menegaskan bahwa Iran belum melihat kebutuhan untuk bernegosiasi langsung dengan pejabat AS. Ia menyebut persyaratan yang diajukan Teheran sudah jelas dan komunikasi dengan mediator internasional tetap berlangsung.

"Qatar meminta agar waktu yang diperlukan untuk melaksanakan usulan kami dipersingkat menjadi lima hari. Saat ini, sedang dibahas usulan untuk mempersingkat periode tersebut menjadi dua hari," ujar Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.

Menurut Araghchi, pembahasan bersama Qatar dan Pakistan masih berjalan. Penentuan apakah negosiasi nantinya berlangsung secara langsung atau melalui perantara bergantung pada penerimaan Washington terhadap persyaratan Iran.

Ia juga menilai pesan Vance dan upaya Washington membuka komunikasi sebagai langkah positif, meskipun belum menjadi dasar untuk memulai perundingan langsung.

Iran mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan penerimaan jalur transit baru yang ditetapkan bersama Oman serta penutupan jalur alternatif lainnya. Teheran juga menuntut pencairan seluruh aset yang dibekukan, termasuk di Qatar, serta pemulihan pengecualian sanksi terkait penjualan minyak.

Di sisi lain, Araghchi menyatakan Iran tetap mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik bersenjata. Ketegangan ini berlangsung setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan terhadap aset Israel dan AS di kawasan.

Presiden AS Donald Trump juga belum menentukan apakah akan melancarkan operasi militer tambahan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan bahwa Washington masih mempertimbangkan berbagai kemungkinan, meskipun kemampuan militernya dinilai memadai.

"Kita dapat mencapai tujuan militer jika kita menghendakinya," ujar Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS, dalam konferensi pers di Atlanta, Georgia.

Rubio menyampaikan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan Trump. Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan mengenai kemungkinan operasi militer setelah pemilu paruh waktu AS pada November.

"Belum membuat keputusan," demikian pernyataan yang disampaikan Rubio mengenai sikap Trump terhadap kemungkinan tindakan militer lanjutan.

Rubio juga mengkritik tindakan Teheran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi kawasan tersebut.

Ia menyebut Iran secara "aktif dan terbuka" menargetkan kapal komersial. Meski demikian, Rubio menegaskan bahwa Trump masih mengutamakan kemungkinan penyelesaian melalui jalur diplomatik.

"Saya tidak mempunyai pengumuman mengenai hal itu kepada Anda hari ini, dan kami juga tidak menganggap entengnya," ujar Rubio.

Rubio tidak memberikan kepastian mengenai perkembangan maupun jadwal penyelesaian perundingan. Ia menyatakan Washington tetap membuka peluang kesepakatan diplomatik.

"Saya tidak akan menjelaskan kemajuan dalam perundingan tersebut maupun jangka waktunya, selain memberi tahu Anda bahwa jika ada solusi diplomatik, kami akan terbuka untuk itu," ujar Rubio.

Sebelumnya, Trump menyatakan sedang mempertimbangkan kemungkinan melanjutkan operasi militer terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS.

Dalam pernyataan sebelumnya, Trump menggunakan ungkapan "menghabisinya" ketika membahas kemungkinan tindakan terhadap Iran. Namun, hingga pernyataan Rubio disampaikan, belum ada keputusan resmi mengenai serangan lanjutan.

Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mendesak Washington dan Teheran menghindari eskalasi konflik.

"Kami menyerukan solusi diplomatik, dan sungguh, eskalasi tidak menguntungkan siapa pun," ujar Kaja Kallas.

Ketidakpastian diplomatik tersebut juga berlangsung di tengah laporan stasiun televisi Israel KAN pada Kamis (29/10/2026) mengenai pengerahan 10 pesawat kargo militer AS ke pangkalan udara Ovda dan Nevatim di wilayah Negev selatan Israel.

KAN juga melaporkan adanya pengiriman pesawat militer tambahan ke pangkalan di Yordania, Arab Saudi, dan Qatar. Namun, Washington belum memberikan konfirmasi langsung mengenai pengerahan tersebut maupun jenis muatan pesawat.

Laporan tersebut turut menyebut pemindahan sistem pertahanan rudal Patriot dari Texas untuk memperkuat pertahanan udara Timur Tengah. Sejumlah pasukan AS di wilayah rawan juga disebut telah diminta meninggalkan lokasi sebagai langkah pencegahan.

Menurut Anadolu Agency, kapal induk dan korps marinir AS diperkirakan tiba di Timur Tengah pada November untuk bergabung dengan sekitar 20 kapal perang AS yang telah beroperasi di kawasan tersebut.

Ketegangan turut berdampak pada pelayaran internasional. Selat Hormuz, yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global, menjadi pusat perselisihan setelah Iran membatasi akses pelayaran dan AS memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sumber: Limapagi. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with