Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Perang

Sehari Menjadi Viet Cong: Perjalanan ke Cu Chi Tunnel, Saigon Halaman 1

Menyusuri Cu Chi Tunnel. Rasakan merangkak di labirin bawah tanah tempat gerilyawan Viet Cong bertahan dari brutalnya Perang Vietnam.

Sumber foto: Kompasiana.com

Matahari mulai meninggi di atas langit Ho Chi Minh City—kota yang hingga kini masih sering disebut warga lokal sebagai Saigon—saat riuh klakson sepeda motor mulai memadati jalanan. Namun, perjalanan kami hari ini bukan untuk menikmati Ca Phe Den, kopi hitam khas Vietnam di kafe modern, melainkan untuk melintasi waktu, kembali ke salah satu babak paling brutal dalam sejarah perang modern, Perang Vietnam. Sekitar 50 kilometer ke arah barat laut, sebuah labirin bawah tanah yang legendaris tengah menunggu: Terowongan Cu Chi (Cu Chi Tunnels).

Meninggalkan hiruk-pikuk distrik satu, lanskap kota perlahan berganti menjadi hamparan hutan karet dan vegetasi hijau yang tampak damai. Sulit dipercaya bahwa beberapa dekade lalu, daerah ini adalah zona perang mematikan, tempat di mana artileri berat Amerika Serikat membombardir hutan, sementara di bawah tanahnya, ribuan gerilyawan Viet Cong bertahan hidup dan mengatur strategi perlawanan dengan alat seadanya.

Begitu menginjakkan kaki di area bersejarah, udara terasa lebih lembap dan aroma tanah basah langsung menyengat hidung. Suasana mendadak hening, berganti dengan replika jebakan bambu tersembunyi dan suara pemandu wisata yang mulai menceritakan rahasia di balik kamuflase dedaunan kering. Hari ini, kami bukan sekadar menjadi turis yang melihat monumen. Hari ini, kami datang untuk menekuk lutut, merangkak di dalam kegelapan yang pekat, dan merasakan sendiri sejumput atmosfer dari kehidupan brutal para pejuang bawah tanah Vietnam di Cu Chi Tunnel.

Sekitar pukul 08.00 pagi, sebuah minibus berwarna silver berhenti tepat di depan Suite Backpacker Inn, akomodasi ramah kantong kami di De Tham Street, District 1. Kawasan backpacker yang semalam riuh oleh dentum musik dan kepulan asap street food kini baru saja terbangun. Sang sopir turun dengan sigap, menyapa kami ramah sambil mencocokkan nama di papan jalan. Kami segera melompat masuk ke kabin ber-AC yang sejuk, bergabung dengan beberapa pelancong asing lainnya dari berbagai negara.

Minibus perlahan membelah kemacetan khas pagi hari Saigon. Dari balik jendela mini bus, pemandangan berganti cepat: dari deretan hostel dan agen perjalanan, melewati barisan kedai kopi pinggir jalan tempat warga lokal duduk di kursi plastik kecil, hingga akhirnya menyusuri jalan raya trans-Vietnam yang padat. Klakson sepeda motor yang bersahut-sahutan perlahan memudar, berganti dengan pemandangan pinggiran kota yang lebih lengang dengan sawah dan perkebunan karet. Perjalanan sekitar dua jam menuju barat laut ini menjadi ruang kontemplasi, membayangkan bagaimana rute yang sama puluhan tahun lalu merupakan jalur logistik perang yang penuh pertaruhan nyawa.

Selepas sekitar satu setengah jam berkendara, minibus kami akhirnya melambat dan memasuki area parkir terowongan Cu Chi yang dikelilingi pohon-pohon tinggi. Begitu pintu geser mobil terbuka, hawa sejuk AC langsung digantikan oleh udara hutan yang lembap dan aroma tanah kering. Kami turun bersama rombongan, meregangkan otot-otot yang kaku sebelum berjalan menuju loket tiket penjelajahan sejarah ini.

Langkah kaki kami membawa kami masuk lebih dalam ke kawasan situs yang kini menyerupai sebuah taman nasional berhutan sekunder yang dipenuhi pohon meranti, karet dan rumpun bambu . Suasana berubah drastis dari hiruk-pikuk Saigon; di sini, dedaunan kering yang berguguran menutupi tanah merah, menciptakan keheningan yang sedikit magis sekaligus menegangkan. Sebelum benar-benar turun ke lapangan, pemandangan pertama yang menyambut kami adalah sebuah bunker terbuka tempat diputarkannya video dokumenter hitam-putih masa perang. Melalui layar tersebut, kami diperlihatkan bagaimana wilayah yang tenang ini dulunya dijuluki "Iron Land" atau Tanah Besi, karena menjadi sasaran empuk jutaan ton bom milik militer Amerika Serikat.

Film sepanjang 20 menit tersebut menjelaskan sejarah distrik Cu Chi selama Perang Vietnam (atau yang oleh masyarakat lokal disebut "Perang Amerika"). Wilayah ini dijuluki "Iron Land" karena ketangguhan tanah dan gerilyawannya, meskipun menjadi target utama dari jutaan ton bom (termasuk pengeboman oleh pesawat B-52) serta penyemprotan zat kimia defolian Agent Orange oleh militer Amerika Serikat.

Dokumenter ini menyajikan sudut pandang dari sisi Vietnam mengenai bagaimana warga desa yang damai dan para petani lokal bertransformasi menjadi gerilyawan demi mempertahankan tanah air mereka menggunakan strategi terowongan yang cerdik.

Lampu di dalam ruang teater perlahan menyala, menandai berakhirnya pemutaran film dokumenter hitam-putih tentang Perang Vietnam. Kami semua berjalan keluar dengan langkah berat, masih terbayang oleh rekaman perang yang mencekam. Di luar, kami langsung berkumpul mengelilingi pemandu wisata kami, seorang pria lokal paruh baya yang tampak begitu bersemangat.

Ia berjalan tegap menuju sebuah papan besar, lalu mengetuk permukaannya dengan tongkat kecil. "Mari mendekat, semuanya," panggilnya ramah. Kami pun merapat, berdiri tepat di samping peta besar Cu Chi Tunnel.

Sumber: Kompasiana.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with