Jurnalis yang Pernah ke Yaman Sebut Houthi Dulunya Dekat dengan Saudi, Sering Jual Hasil Pertanian
Metalia Rasyid mengungkapkan bahwa sebelum konflik pecah, warga Sa’dah yang menjadi basis Houthi lebih sering menjual hasil pertanian ke Saudi

Hubungan kelompok Houthi di Yaman dengan Arab Saudi ternyata pernah diwarnai kedekatan ekonomi.
Sebelum kedua pihak terlibat konflik berkepanjangan, masyarakat di wilayah Sa'dah yang menjadi basis Houthi, justru lebih sering menjual hasil pertanian dan perkebunan mereka ke Arab Saudi dibandingkan ke ibu kota Yaman, Sana'a.
Hal tersebut diungkapkan oleh jurnalis yang kini bekerja di Kompas TV, Metalia Rasyid, berdasarkan pengalamannya meliput langsung wilayah yang dikuasai Houthi pada Juni 2011 lalu.
Dalam program Kompas Siang, Kamis (22/10/2026), Metalia menceritakan bahwa dirinya bersama juru kamera dan seorang penghubung lokal, berhasil memasuki Sa'dah, wilayah di Yaman bagian utara yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi.
Saat itu, Metalia tengah meliput gelombang revolusi Arab atau Arab Spring yang turut melanda Yaman.
Awalnya, ia berfokus pada pergolakan politik di ibu kota sebelum melakukan riset mengenai kelompok Houthi yang menentang pemerintahan Yaman.
Namun, untuk mencapai wilayah basis Houthi, Metalia harus melewati berbagai tantangan, di antaranya sejumlah pos pemeriksaan militer yang dijaga tentara pemerintah Yaman.
Setelah berhasil memasuki wilayah tersebut, ia melihat langsung situasi di Sa'dah.
Ia melihat banyak simbol-simbol kelompok Houthi yang terpasang di pos pemeriksaan mereka.
Pemandangan itu kontras dengan apa yang ada di ibu kota, yang biasanya hanya ada bendera Yaman.
Metalia mengaku rombongannya sempat disambut oleh juru media Houthi yang menyebut mereka sebagai jurnalis asing pertama yang berhasil menembus wilayah tersebut.
Salah satu hal yang menarik perhatian Metalia adalah hubungan ekonomi masyarakat Sa'dah dengan Arab Saudi.
Meski Sa'dah masih menjadi bagian dari negara Yaman, aktivitas perdagangan masyarakatnya justru banyak terhubung dengan negara tetangga di utara itu.
“Mereka waktu itu malah lebih sering menjual hasil pertanian dan perkebunannya ke Arab Saudi dibandingkan menjual hasil perkebunan itu ke kota Sana'a,” kata Metalia.
Metalia mengatakan, kondisi itu terasa kontras jika dibandingkan dengan situasi yang berkembang setelahnya.
Sumber: Tribunnews.com. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Jelang Hari jadi ke 3 Pujaketarub Nasional Gelar Rapat Besar
Menjelang Hari Jadinya Dewan Pimpinan Nasional ( DPN ) Paguyuban Jawa keturunan Nusantara Bersatu ( Pujaketarub ) melaksanaka kegiatan Rapat Besar .pada minggu sore...
Iran Peringatkan Perang Baru dengan AS Bisa Panjang Usai Diancam Trump
Iran memperingatkan perang baru melawan AS bisa berlangsung lebih lama dibandingkan konflik sebelumnya usai Trump kembali menebar ancaman.
Narkoba Serang Generasi Muda, Anggota DPRD Muara Enim Muhamad Napoleon Serukan Perang Total!
SumSel, Langkah tegas Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) beserta seluruh jajaran Kepolisian Daerah (Polda), Kepolisian Resor (Polres), hingga Kepolisian Sektor (Polsek) dalam memberantas peredaran...
Yamaha Mundur dari MotoGP Qatar karena Kemelut di Timur Tengah
Yamaha menyatakan tidak akan menurunkan pebalapnya di ajang balap MotoGP Qatar di weekend minggu depan karena alasan situasi Timur Tengah.