Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Timur Tengah

Rupiah Berpotensi Melemah di Tengah Gejolak Timur Tengah

Rupiah berpotensi melemah ke Rp 18.040 per dolar AS pada 21 Oktober 2026, dipengaruhi ketegangan Timur Tengah dan keputusan Bank Indonesia.

Sumber foto: SuaraGarut.ID

Nilai tukar rupiah berpotensi melemah pada perdagangan Rabu (21/10/2026) setelah menguat pada hari sebelumnya. Dilansir dari Investasi, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan peluang ditutup pada kisaran Rp 17.990 hingga Rp 18.040 per dolar Amerika Serikat (AS), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan penantian keputusan Bank Indonesia.

Mengutip data Bloomberg, rupiah pada Selasa (20/10/2026) ditutup menguat 0,3% ke level Rp 17.992 per dolar AS. Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat penguatan 0,24% ke level Rp 18.006 per dolar AS pada hari yang sama.

Menurut Ibrahim Assuaibi, perkembangan di Timur Tengah menjadi salah satu faktor eksternal yang dapat memengaruhi pergerakan mata uang Indonesia. Ketegangan meningkat setelah kelompok Houthi menyerang kamp pelatihan di provinsi Shabwa, Yaman, sehingga memunculkan kembali kekhawatiran mengenai stabilitas kawasan dan pasokan energi.

Risiko terhadap pasokan energi tersebut turut menjadi perhatian pasar karena harga minyak masih bertahan di atas US$ 100 per barel. Perkembangan geopolitik ini menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pelaku pasar dalam memperkirakan arah pergerakan rupiah.

Selain situasi Timur Tengah, pasar memantau kebijakan Presiden AS Donald Trump yang mencabut sanksi dan tarif utama terkait Rusia. Namun, Trump menyatakan belum mengambil keputusan akhir, sementara Menteri Luar Negeri Marco Rubio masih membutuhkan waktu untuk melakukan evaluasi.

Ibrahim juga menyoroti sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat yang dapat memengaruhi sentimen pasar, termasuk data mingguan klaim tunjangan pengangguran dan data awal indeks manajer pembelian (PMI) dari S&P Global.

"Namun, sejumlah data ekonomi tetap akan dirilis, seperti data mingguan klaim tunjangan pengangguran serta data awal (flash) PMI dari S&P Global," ujar Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya pada Selasa (20/10/2026).

Dari dalam negeri, realisasi investasi menjadi salah satu sumber sentimen positif bagi perekonomian. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi Indonesia selama Januari hingga September 2026 mencapai Rp 1.539,2 triliun, setara dengan 75,4% dari target investasi sepanjang tahun ini.

Capaian tersebut menjadi salah satu perkembangan domestik yang diperhatikan pasar ketika menilai prospek ekonomi Indonesia. Meski demikian, pergerakan rupiah pada perdagangan Rabu tetap berpotensi dipengaruhi kombinasi sentimen global dan agenda kebijakan dalam negeri.

Pelaku pasar juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Rabu (21/10/2026). Keputusan bank sentral tersebut menjadi salah satu agenda utama yang dicermati di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah.

Berdasarkan proyeksi Ibrahim Assuaibi, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 17.990 hingga Rp 18.040 per dolar AS pada perdagangan Rabu (21/10/2026), dengan potensi ditutup melemah.

Sumber: SuaraGarut.ID. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with