Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Iran

Iran Klaim Punya Bom 10 Ton, Infrastruktur Digital Teluk hingga Kabel Internet Ikut Terancam – Video

Ketegangan Timur Tengah meningkat di tengah klaim Iran memiliki bom seberat 10 ton. Ancaman terhadap kabel internet bawah laut dan pusat data AI

Sumber foto: Bangkapos.com

-Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah muncul klaim mengenai bom berkekuatan besar yang dikaitkan dengan Iran, di tengah meningkatnya ancaman konflik dengan Amerika Serikat (AS).

Di saat yang sama, infrastruktur digital strategis di kawasan Teluk, termasuk pusat data kecerdasan buatan (AI) dan kabel internet bawah laut, turut masuk dalam daftar aset yang dikhawatirkan terdampak jika perang kembali pecah.

Klaim mengenai bom seberat 10 ton yang dijuluki Father of All Bombs (FOAB) disebut-sebut sebagai tandingan terhadap bom konvensional terbesar milik AS, Massive Ordnance Air Blast (MOAB).

Namun, spesifikasi teknis serta klaim kepemilikan senjata tersebut oleh Iran belum terverifikasi secara independen.

Istilah FOAB sendiri dikenal luas sebagai julukan bom termobarik Rusia, sedangkan MOAB merupakan bom konvensional Amerika Serikat.

Karena itu, klaim bahwa Iran memiliki bom dengan sebutan dan kemampuan tersebut perlu dibedakan dari informasi persenjataan yang telah terkonfirmasi.

Di luar persoalan persenjataan, ancaman terhadap infrastruktur digital kini menjadi perhatian lain dalam eskalasi konflik di kawasan tersebut.

Ancaman terhadap infrastruktur digital Teluk mengemuka setelah pejabat keamanan Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan bahwa pusat data, fasilitas AI, dan kabel komunikasi bawah laut di kawasan itu dapat menjadi sasaran jika perang dengan Amerika Serikat kembali pecah.

Peringatan tersebut dilaporkan Al Jazeera pada 13 Oktober 2026.

Infrastruktur yang dimaksud berperan penting dalam menopang layanan komputasi awan (cloud computing), komunikasi lintas negara, dan sistem keuangan digital.

Kabel serat optik bawah laut menjadi perhatian karena sebagian besar lalu lintas data antara Eropa dan Asia melewati jalur strategis Laut Merah.

Gangguan pada kabel-kabel tersebut berpotensi memperlambat koneksi internet dan mengganggu layanan digital di sejumlah negara sekaligus.

Pusat data juga memiliki peran penting karena menjadi tempat penyimpanan dan pemrosesan informasi untuk berbagai layanan digital.

Kerusakan pada fasilitas tersebut, termasuk gangguan pasokan listrik, pendingin, atau konektivitas, dapat menghambat operasional layanan yang bergantung pada infrastruktur itu.

Sumber: Bangkapos.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with