Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Perang

Warga Khawatir Perang Kelompok Kembali Pecah, RT/RW Intensifkan Pemantauan

Seorang pemuda bernama Khairil (22) tewas setelah ditebas dalam pertikaian antarkelompok tersebut.

Sumber foto: Tribun-timur.com

Perang kelompok yang melibatkan pihak Kokolojia dan Rajawali kembali pecah di Jalan Rajawali, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (15/10/2026) dini hari.‎‎Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 01.30 Wita tersebut menelan korban jiwa.

Seorang pemuda bernama Khairil (22) tewas setelah ditebas dalam pertikaian antarkelompok tersebut.‎‎Kelompok Kokolojia berada di wilayah Kelurahan Kunjung Mae, sedangkan kelompok Rajawali berada di Kelurahan Panambungan, Kecamatan Mariso.‎‎Camat Mariso Andi Syahrir mengatakan, pertikaian tersebut diduga dipicu persoalan sepele, yakni geberan sepeda motor.‎‎Meski demikian, perselisihan antara kedua kelompok tersebut sebenarnya telah berlangsung cukup lama.‎‎Pada 15 September 2026, kedua kelompok itu juga sempat terlibat perselisihan yang menyebabkan satu orang terkena busur.‎‎Saat itu, pemerintah kecamatan bersama kepolisian telah berupaya mendamaikan kedua kelompok tersebut.‎‎"Belum cukup sebulan kami damaikan di Polsek. Kami tidak pernah menyangka akan terjadi lagi perkelahian kelompok seperti ini karena sudah didamaikan," kata Andi Syahrir, Jumat (16/10/2026). ‎‎Ia menjelaskan, dalam upaya perdamaian sebelumnya, sejumlah orang yang terlibat pertikaian sempat diamankan oleh kepolisian.‎‎Proses perdamaian tersebut dihadiri Camat Mariso, Sekretaris Camat Mariso, lurah dari kedua wilayah, serta sejumlah ketua RT/RW.‎‎Pasca-insiden pada Kamis dini hari, Pemerintah Kecamatan Mariso bersama aparat keamanan mendirikan posko pengamanan. ‎‎Syahrir mengatakan, posko tersebut melibatkan pengurus RT/RW, koramil, Polsek Mariso, jajaran Polrestabes Makassar, serta personel Brimob.‎‎Posko didirikan di dekat Gereja Batak di Jalan Rajawali. ‎‎Penjagaan direncanakan berlangsung selama tiga hari, mulai Kamis (15/10/2026) malam.‎‎Menurut Syahrir, situasi di sekitar lokasi masih berpotensi memanas karna adanya korban meninggal dunia.‎‎Karena itu, aparat keamanan bersama pemerintah kecamatan berupaya mencegah terjadinya aksi balasan.‎‎"Kami berusaha agar jangan sampai ada aksi balasan atas kejadian semalam. Karena itu, dilakukan pengamanan oleh kepolisian dan jajaran TNI," ujarnya.‎‎Berdasarkan informasi yang diterima dari kepolisian, Syahrir mengatakan sejumlah orang yang diduga terlibat dalam pertikaian tersebut telah diamankan.‎‎"Sudah ada yang diamankan, semoga ini dapat meredam," ucapnya.‎‎Untuk jangka panjang, ia menilai pengawasan orang tua dan lingkungan menjadi salah satu hal penting untuk mencegah perang kelompok kembali terulang.‎‎Ia meminta orang tua memberikan pemahaman kepada anak-anak mereka mengenai bahaya dan dampak pertikaian antarkelompok.‎‎Selain itu, ketua RT/RW di masing-masing wilayah diharapkan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas pemuda serta membantu menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.‎‎"Kami minta RT/RW tingkatkan pengawasan di lingkungan, harus dapat mendeteksi potensi kericuhan secepat mungkin," ucapnya.‎‎Pemerintah Kecamatan Mariso juga bekerja sama dengan kepolisian dan TNI melaksanakan program kunjoke sekolah untuk memberikan edukasi kepada para pelajar mengenai bahaya perkelahian kelompok.‎‎Edukasi tersebut dilakukan dengan mendatangi sejumlah sekolah di Kecamatan Mariso, di antaranya SMP Negeri 29 Makassar, SMA Negeri 14 Makassar, dan SMA Nasional.‎‎Syahrir berharap pendekatan kepada orang tua, pengawasan lingkungan, dan edukasi di sekolah dapat membantu mencegah pertikaian serupa yang berpotensi menimbulkan korban jiwa.‎‎"Semua upaya kita lakukan untuk mencegah kembali terulangnya perang kelompok," ucapnya.‎‎Sementara itu, Ketua RT 003/RW 002 Kelurahan Kunjung Mae, Rosna, mengatakan dirinya terus memantau lorong dan lingkungan untuk menjaga keamanan wilayah.‎‎Ia mengungkapkan, masyarakat saat ini merasa khawatir menyusul kembali pecahnya perang kelompok tersebut.‎‎Warga takut pertikaian kembali terjadi dan menimbulkan korban jiwa dari kedua belah pihak.‎‎"Masyarakat saat ini takut, takut perang lagi, tapi kami sosialisasi untuk tenangkan," ucapnya.‎‎Rosna mengatakan, dirinya bersama pengurus RT/RW Kelurahan Kunjung Mae aktif mengikuti penjagaan di posko gabungan yang digelar pemerintah kecamatan dan kelurahan di Jalan Rajawali.‎‎Selain mengikuti penjagaan di posko, Rosna juga meminta warga melalui grup WhatsApp untuk melaporkan jika menemukan aktivitas mencurigakan di lingkungan mereka.‎‎"Kami intens komunikasi dengan warga, sewaktu-waktu ada insiden atau pengerahan massa, kami akan koordinasi ke pihak kepolisian secepatnya," ucapnya.‎‎Rosna berharap situasi keamanan dapat kembali normal. Menurutnya, rasa aman merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat di lingkungan tempat tinggal.‎‎"Harapan tentu tak ada lagi insiden. Kami terus berupaya menekan ketegangan, kami juga terus berkoordinasi dengan pihak kelurahan dan keamanan," ucapnya.

Sumber: Tribun-timur.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with