Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Perang

Perang Saudi-Houthi Diprediksi Panjang, Jalan Damai Butuh Mediator, Siapa yang Cocok?

Peneliti Aisha Kusumasomantri memprediksi konflik Arab Saudi dan Houthi di Yaman berpotensi berlangsung panjang atau menggantung.

Sumber foto: Tribunnews.com

Konflik antara Arab Saudi dan Houthi di Yaman kembali memanas, sementara ketegangan Iran dan Amerika Serikat belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Lantas berapa lama lagi perang di Timur Tengah ini akan berlangsung?

Peneliti senior Indo Pacific Strategic Intelligence, Aisha Kusumasomantri, mengakui pertanyaan itu sulit dijawab dengan angka.

“Kita enggak bisa mengkuantifikasi waktunya berapa lama, tetapi memang ada intervening aspek yang bisa kita lihat,” katanya dalam wawancara KompasTV, Jumat (16/10/2026).

Aisha berpendapat Pemilu Sela Amerika Serikat pada 3 November mendatang sebagai faktor yang patut dicermati.

“Saya berharap sebenarnya pemilu nanti di tanggal 3 November ini bisa menjadi decisive factor yang membuat Amerika Serikat itu bisa mundur dari Timur Tengah,” ujarnya.

Ia menegaskan, mundurnya AS bukan karena kekalahan di medan perang tetapi karena keputusan politik.

“Bukan karena kekuatan militernya tidak kuat, tetapi karena adanya pertentangan dalam negeri yang membuat Amerika Serikat pada akhirnya harus mengambil keputusan politik untuk bisa menarik mundur pasukannya," ujarnya.

Sementara dari sisi Yaman, gambarannya masih abu-abu.

Aisha memperkirakan konflik yang kini terjadi baru permulaan.

"Kalau untuk Yaman, saya kira sebenarnya di sini ini kita masih sangat abu-abu karena ini merupakan awal dari perang, yang saya prediksi ini menjadi perang panjang atau mungkin perang yang sangat menggantung di ke depannya."

Menurutnya, kunci perdamaian ada pada sikap Saudi.

"Nah, selama kemudian Arab Saudi ini tidak membuat sebuah konsesi atau keinginan untuk kemudian bisa berdiplomasi, ya saya kira sebenarnya sulit bagi kedua negara untuk kemudian bisa sampai kepada damai."

Persoalan lainnya adalah belum adanya titik temu.

“Sejauh ini saya kira sebenarnya zone of possible agreement-nya itu belum ketemu di antara kedua negara,” kata Aisha.

Sumber: Tribunnews.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with