5 Tokoh Oposisi Israel Bersatu Gulingkan Netanyahu, Nasib Palestina Bagaimana?
Sejumlah tokoh oposisi Israel berupaya menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu

5 Tokoh Oposisi Israel Bersatu Gulingkan Netanyahu, Nasib Palestina Bagaimana?
Sejumlah tokoh oposisi Israel berupaya menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.
Lima tokoh oposisi menandatangani pakta non-agresi pada 26 September 2026 untuk menyatukan langkah menghadapi Netanyahu.
Mereka adalah mantan Perdana Menteri Naftali Bennett, pemimpin oposisi Yair Lapid, mantan Kepala Staf Militer Israel Gadi Eisenkot, pemimpin Partai Demokrat Yair Golan, dan Ketua Partai Yisrael Beiteinu Avigdor Lieberman.
Dikutip Serambinews.com melalui Al Jazeera, Sabtu (17/10/2026), kesepakatan tersebut bertujuan membentuk pemerintahan baru yang berlandaskan politik Zionis, dengan agenda perbaikan dan rekonstruksi negara.
Namun, bersatunya para tokoh oposisi itu belum tentu membawa perubahan besar terhadap kebijakan Israel, terutama mengenai Palestina dan perang di Gaza.
Sejumlah analis menilai sebagian besar tokoh oposisi tersebut tetap memiliki pandangan politik sayap kanan dan mendukung kebijakan keamanan Israel yang keras.
Mereka juga belum menunjukkan komitmen yang jelas untuk mendirikan negara Palestina sebagai solusi konflik Israel-Palestina.
Pertemuan yang berlangsung di kediaman Yair Lapid di Tel Aviv pada 26 September 2026 menjadi langkah penting dalam upaya menyatukan kekuatan oposisi Israel.
Dalam pernyataan bersama setelah pertemuan, kelima tokoh tersebut menyatakan bahwa meskipun memiliki perbedaan ideologi, mereka mempunyai tujuan bersama untuk membentuk pemerintahan Zionis yang dianggap mampu memperbaiki dan membangun kembali Israel.
Kesepakatan itu diharapkan dapat mengurangi persaingan di antara partai-partai oposisi menjelang pemilu.
Meski demikian, pertanyaan mengenai siapa yang akan memimpin pemerintahan apabila Netanyahu kalah masih belum terjawab.
Perbedaan pandangan mengenai strategi keamanan, hubungan dengan partai-partai Arab, dan arah kebijakan luar negeri juga berpotensi menjadi tantangan bagi koalisi tersebut.
Ahron Bregman, analis Israel sekaligus pengajar senior di King's College London, menilai tokoh-tokoh dominan dalam kelompok oposisi, seperti Bennett, Lieberman, dan Eisenkot, masih mewakili politik sayap kanan.
Menurutnya, para tokoh tersebut belum bersedia membahas persoalan mendasar mengenai hak rakyat Palestina untuk merdeka.
Sumber: Serambinews.com. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
500 Ribu Orang Diperkirakan Ikuti Demonstrasi Nasional di Prancis Hari Ini
Sebanyak 500.000 orang diperkirakan mengikuti demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Prancis hari ini, Sabtu (31/10/2026), untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Pemerintah Prancis menyiapkan sekitar...
TechConnect Gelar Liga Matematika Nasional Berhadiah Rp 1 Miliar
TechConnect menggelar The Genius Math League 2026 untuk menjaring talenta matematika dari SD hingga mahasiswa dengan total hadiah Rp 1 miliar.
Harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam enam bulan di tengah kekhawatiran atas situasi AS-Iran.
Menjelang akhir pekan, harga minyak berbalik arah dan melonjak ke level tertinggi sejak akhir April 2026, karena kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran dapat meningkat...