Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Palestina

Laporan Ungkap Dugaan Penyiksaan dan Kelaparan Tahanan Palestina

Sejumlah laporan mengungkap dugaan penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis terhadap tahanan Palestina di penjara Israel serta menyerukan penyelidikan internasional.

Sumber foto: Lensa Hukum

Dugaan penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian layanan kesehatan terhadap tahanan Palestina kembali menjadi sorotan melalui sejumlah laporan yang diterbitkan pada Oktober 2026. Palestinian Prisoners Society (PPS) menyebut lebih dari 2.000 anak Palestina telah ditahan sejak Oktober 2023, sementara sedikitnya 350 anak masih berada di penjara Israel. Secara terpisah, Hind Rajab Foundation mengajukan pengaduan ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terkait dugaan keterlibatan pejabat dan tenaga medis dalam perlakuan buruk terhadap tahanan di fasilitas militer Sde Teiman.

Dalam laporan yang dirilis pada 14 Oktober 2026, PPS menyoroti penahanan anak tanpa dakwaan maupun kepastian pembebasan. Organisasi tersebut juga melaporkan penangkapan sedikitnya enam anak di Hebron, Tepi Barat, pada 13 Oktober 2026, serta menyatakan belum memiliki angka pasti anak yang ditahan di Gaza karena banyak orang masih dilaporkan hilang.

PPS menilai penahanan tanpa kejelasan proses hukum berdampak pada kehidupan keluarga dan pendidikan anak-anak Palestina.

"Kebijakan Israel berupa penahanan tanpa dakwaan atau tanpa kejelasan tanggal pembebasan merupakan pelanggaran dan kejahatan tambahan yang membuat anak-anak berada dalam ketidakpastian, serta merampas stabilitas keluarga dan pendidikan mereka," ujar PPS dalam laporannya.

Organisasi itu turut mendokumentasikan dugaan intimidasi, kekerasan fisik, kelaparan, dan pembatasan akses terhadap perawatan medis. Salah satu kasus yang disoroti ialah Mohammed Hamid, remaja berusia 15 tahun yang mengalami skabies saat ditahan di Penjara Ofer. Menurut laporan PPS, infeksi yang dideritanya memburuk hingga memerlukan operasi jantung dan perawatan intensif, sebelum salah satu kakinya diamputasi.

PPS juga menyoroti Walid Ahmed, remaja berusia 17 tahun yang meninggal pada Maret 2025 setelah enam bulan ditahan di Penjara Megiddo. Laporan IDN Times menyebut hakim Israel menghentikan penyelidikan atas kematiannya pada Desember 2026 dengan alasan penyebab kematian tidak dapat dipastikan, meskipun terdapat bukti yang menunjukkan dugaan kelaparan. Tanggal tersebut berada setelah tanggal publikasi laporan pada 16 Oktober 2026 sehingga kronologi itu belum dapat dipastikan.

Desakan penyelidikan internasional juga muncul melalui pengaduan Hind Rajab Foundation yang disampaikan kepada jaksa ICC berdasarkan Pasal 15 Statuta Roma. Menurut laporan Anadolu Agency pada 11 Oktober 2026, pengaduan itu menargetkan sejumlah pejabat kementerian, tenaga medis, pengelola rumah sakit, dan Asosiasi Medis Israel atas dugaan keterlibatan dalam penyiksaan serta perlakuan buruk di Sde Teiman.

Fasilitas militer di Gurun Negev tersebut digunakan untuk menahan ribuan warga Palestina dari Gaza sejak Oktober 2023, menurut yayasan itu. Pengaduan tersebut menyoroti dugaan instruksi Kementerian Kesehatan Israel tertanggal 19 Desember 2023 yang mewajibkan tenaga medis memberikan perawatan kepada tahanan dengan tangan diborgol dan mata tertutup, serta dugaan tindakan medis paksa tanpa perlindungan memadai.

Hind Rajab Foundation juga mengutip laporan mengenai dua tahanan yang harus menjalani amputasi kaki dalam kurun satu pekan pada 2024 akibat cedera yang diduga berkaitan dengan penggunaan belenggu. Yayasan itu menyebut sedikitnya 29 tahanan meninggal dunia di Sde Teiman hingga November 2025 akibat kekerasan fisik, pengabaian medis, atau kombinasi keduanya.

Di sisi lain, investigasi Haaretz yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026 menghimpun kesaksian lima mantan tahanan Palestina dari sejumlah penjara dan pusat penahanan militer. Mereka mengaku kehilangan 15 hingga 50 persen berat badan selama penahanan serta mengalami atau menyaksikan pemukulan, hukuman kolektif, penghinaan, infeksi skabies, dan keterlambatan perawatan medis.

Jurnalis Palestina Ali Samoudi, 59 tahun, mengatakan dirinya kehilangan sekitar setengah berat badan selama menjalani penahanan administratif selama setahun dan dibebaskan tanpa dakwaan resmi. Samer Khweira, jurnalis Palestina lainnya, mengaku melihat tahanan mengalami malnutrisi dan infeksi skabies parah hingga kesulitan bergerak, serta menyatakan dirinya tertular penyakit tersebut selama ditahan.

Laporan terpisah dari Kantor Media Tahanan Palestina menyebut dokter asal Gaza Marwan al-Hams mengalami dugaan penganiayaan di Penjara Ganot ketika Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengunjungi fasilitas itu pada 7 Oktober 2026. Menurut kantor tersebut, al-Hams mengalami patah tulang dan nyeri punggung, memiliki kadar kolesterol dan lemak darah tinggi, serta membutuhkan pemantauan elektrokardiogram selama 24 jam dan perawatan medis berkala.

Kantor Media Tahanan Palestina juga menyampaikan kesaksian tahanan Gaza mengenai memburuknya kebersihan, meluasnya skabies, dan keterbatasan perlengkapan tidur. Mereka menyebut kasur telah diambil dan penggunaan selimut dilarang, sehingga para tahanan terpaksa duduk di lantai pada siang hari.

PPS mendesak komunitas internasional mengambil langkah konkret untuk membebaskan anak-anak yang ditahan secara sewenang-wenang, menyelidiki dugaan pelanggaran, dan memastikan akses terhadap layanan kesehatan.

"Perlindungan terhadap anak-anak Palestina membutuhkan intervensi internasional yang tegas untuk memastikan penghormatan terhadap hak, kehidupan dan martabat mereka," ujar PPS sebagaimana dikutip Anadolu Agency.

Menurut laporan IDN Times, pasukan Israel dilaporkan telah menahan lebih dari 25.000 warga Palestina di Tepi Barat sejak perang di Gaza dimulai pada Oktober 2023, sementara ribuan lainnya ditahan di Gaza. Berbagai tuduhan dalam laporan tersebut berasal dari organisasi Palestina, mantan tahanan, dan kelompok hak asasi manusia, serta belum seluruhnya disertai hasil penyelidikan independen yang dipaparkan dalam bahan sumber.

Sumber: Lensa Hukum. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with