Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Perang

Sinergi Kebangsaan: Lemhannas dan PWI Perkuat Peran Pers Hadapi Perang Kognitif Era AI – Suara Karya

Sinergi Kebangsaan: Lemhannas dan PWI Perkuat Peran Pers Hadapi Perang Kognitif Era AI. Di ruang pertemuan Kantor Lembaga Ketahanan Nasional

Sumber foto: Suara Karya

Di ruang pertemuan Kantor Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI di Jakarta, gema sejarah dan modernitas bertemu dalam sebuah jabat tangan yang hangat.

Pada Kamis, 15 Oktober 2026, lembaran baru dalam hubungan strategis antara negara dan pilar keempat demokrasi resmi dibuka.

Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Akhmad Munir, bersama Gubernur Lemhannas RI, Ace Hasan Syadzily, menorehkan tinta pada naskah nota kesepahaman—sebuah pembaruan komitmen yang telah lama terjalin.

Kehadiran jajaran pengurus PWI Pusat, seperti Wakil Sekretaris Jenderal Kadirah, Wakil Sekretaris Jenderal Haryo Ristamaji, hingga Ketua Bidang Pembelaan dan Pembinaan Hukum Anrico Pasaribu, mengukuhkan keseriusan organisasi wartawan tertua di Indonesia ini.

Nota kesepahaman tersebut bukan sekadar seremoni administratif di atas kertas.

Di dalamnya terkandung cetak biru penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan kepemimpinan, Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK), pertukaran narasumber, hingga sinergi dalam kegiatan ilmiah.

Bagi Akhmad Munir, kolaborasi ini adalah sebuah keniscayaan. Ia mengenang bagaimana puluhan hingga ratusan anggota PWI di pusat maupun daerah telah ditempa dalam kawah candradimuka Lemhannas melalui pendidikan wawasan kebangsaan dan wawasan nusantara yang memakan waktu tiga hingga enam bulan.

Namun, tantangan zaman hari ini telah bermetamorfosis. Jika dulu ketahanan negara diuji lewat batas-batas fisik dan bedil pertempuran, kini medan laga telah bergeser ke ranah digital yang senyap namun mematikan.

Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily melontarkan catatan penting yang patut direnungkan seluruh elemen bangsa: ketahanan nasional tidak lagi tunggal bertumpu pada kekuatan militer semata.

Ia merentangkan spektrum itu ke dalam dimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga demografi.

Lebih tajam lagi, Ace memperingatkan adanya ancaman berupa "perang kognitif"—sebuah medan tempur baru di mana algoritma cerdas, kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI), dan banjir informasi bekerja mengaburkan akal sehat serta mendistorsi persepsi publik.

Di sinilah letak irisan strategis antara Lemhannas dan PWI. Pers memegang kendali atas keran informasi yang setiap detik mengalir ke sanubari masyarakat.

Sumber: Suara Karya. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with