Selasa, 3 November 2026

DVP Berita

Terkini
Palestina

Israel Mundur setelah 10 Hari Lakukan Aksi Terorisme di Hebron

Israel Mundur setelah 10 Hari Lakukan Aksi Terorisme di Hebron

Sumber foto: Spirit of Aqsa

HEBRON — Pasukan penjajah Israel akhirnya mundur dari Kota Hebron, Tepi Barat bagian selatan, Senin (2/11), setelah menjalankan operasi militer selama 10 hari. Gubernur Hebron Khaled Dudin menyatakan aparat keamanan Palestina kini menguasai seluruh wilayah kota.

Dudin mengatakan keluarga-keluarga Palestina yang terpaksa meninggalkan rumah selama operasi militer tersebut sudah diperbolehkan kembali. Pemerintah setempat bersama aparat keamanan, kata dia, terus memantau situasi di lapangan dan menyiapkan berbagai kebutuhan untuk memastikan warga dapat pulang dengan aman.

Kepulangan warga berlangsung bertahap. Koresponden Al Jazeera di Hebron, Muhammad al-Atrash, melaporkan warga yang sebelumnya dipaksa meninggalkan rumah mulai kembali ke tempat tinggal mereka. Sejumlah pemilik toko juga membuka kembali usaha, sehingga lalu lintas di kota mengalami kepadatan.

Menurut laporan al-Atrash, sekitar 537 keluarga Palestina terpaksa meninggalkan rumah selama operasi tersebut. Selain itu, 317 toko dan restoran ditutup.

Kerusakan akibat operasi militer terlihat jelas di kawasan Deir Bahha, salah satu lingkungan di Hebron. Pasukan penjajah Israel dilaporkan menghancurkan sejumlah rumah di kawasan tersebut.

Al Jazeera juga memperoleh kesaksian warga yang menyebut tentara Israel mencuri uang dan barang berharga dari rumah-rumah yang mereka geledah. Rumah-rumah itu mengalami kerusakan parah, yang baru terlihat lebih jelas setelah warga kembali dan memeriksa kondisi tempat tinggal mereka.

Di tengah kepulangan warga, otoritas Hebron mengeluarkan sejumlah imbauan untuk menghindari risiko keselamatan. Warga diminta tidak menyentuh atau memindahkan benda mencurigakan, serta menjauhi benda asing, amunisi, dan sisa-sisa bahan peledak.

Mereka juga diminta memastikan keamanan kawasan sebelum kembali ke rumah dan tidak memasuki bangunan yang rusak sebelum diperiksa oleh pihak berwenang. Jalan-jalan harus tetap terbuka bagi tim pertahanan sipil dan unit penjinak bahan peledak kepolisian Palestina. Warga dilarang berkumpul di lokasi kerja tim tersebut.

Otoritas setempat turut meminta warga memberi perhatian khusus kepada anak-anak, lansia, serta penyandang disabilitas dalam proses pemulihan dan penyediaan tempat tinggal.

Dampak operasi militer Israel di Hebron jauh melampaui pengungsian keluarga. Berdasarkan data pemerintah kota, lebih dari 3.300 warga mengalami pengungsian atau terdampak langsung oleh serangan tersebut.

Sebanyak 15 rumah dan bangunan dilaporkan dihancurkan. Sementara itu, 327 toko ditutup, dengan kerugian langsung harian diperkirakan mencapai 12 juta shekel atau sekitar 3,8 juta dolar AS.

Operasi militer itu juga mengganggu pendidikan. Sekitar 80 ribu siswa dan siswi tidak dapat mengikuti kegiatan belajar di sekolah selama serangan berlangsung.

Operasi dan pengepungan Hebron dimulai pada 23 Oktober lalu, menyusul serangan penembakan yang dilakukan dua warga Palestina. Serangan itu menewaskan dua tentara Israel dan melukai tiga lainnya. Militer Israel kemudian membunuh kedua pelaku dan menghancurkan rumah mereka di Hebron.

Sejak hari itu, militer Israel memberlakukan penutupan di Kota Hebron dan sejumlah desa di sekitarnya. Pasukan Israel juga mengambil alih rumah-rumah warga Palestina di kawasan Al-Jilda dan Ain Deir Bahha, lalu mengubahnya menjadi barak militer dan memasang bendera Israel.

Hari-hari awal pengepungan diwarnai pengusiran paksa warga, penghancuran rumah, bangunan, dan toko, serta perusakan infrastruktur. Mundurnya pasukan Israel kini membuka jalan bagi warga untuk kembali, tetapi kerusakan yang ditinggalkan operasi militer tersebut masih membebani kehidupan masyarakat Hebron.

Sumber: Spirit of Aqsa. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with