Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Perang

Obama Salahkan Perang Trump dengan Iran atas Kenaikan Harga

Barack Obama menyalahkan keputusan Donald Trump memulai perang dengan Iran atas lonjakan harga minyak, bahan bakar diesel, dan biaya hidup di AS.

Sumber foto: SuaraGarut.ID

Kenaikan biaya hidup dan harga bahan bakar menjadi sasaran kritik mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama terhadap pemerintahan Donald Trump. Dalam kampanye Partai Demokrat di Ohio dan Michigan pada Sabtu (24/10/2026), Obama menyalahkan keputusan Trump memulai perang dengan Iran yang dinilainya mengganggu distribusi minyak dan mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan.

Dilansir Al-Jazeera dan AFP pada Minggu (25/10/2026), Obama menyampaikan kritik tersebut saat mendukung kandidat Partai Demokrat menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026. Pemungutan suara itu akan menentukan persaingan untuk menguasai Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat, yang saat ini dikuasai Partai Republik pimpinan Trump.

Obama menilai konflik dengan Iran memberikan dampak langsung terhadap pasar energi, terutama karena posisi strategis Selat Hormuz dalam distribusi minyak dunia. Ia mengaitkan gangguan tersebut dengan kenaikan harga bahan bakar dan barang-barang lainnya.

Dalam kampanye di Ohio, Obama membandingkan pendekatan diplomatik pemerintahannya terhadap program nuklir Iran dengan keputusan Trump menggunakan kekuatan militer.

"Iran tidak memiliki senjata nuklir karena saya telah menetapkan sebuah kesepakatan yang diakui oleh semua pihak mampu mencegah mereka memperoleh senjata nuklir. Dan saya tidak perlu meluncurkan satu pun rudal untuk mencapainya. Saya hanya perlu melakukan diplomasi," ujar Obama.

Kesepakatan yang dimaksud adalah Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang disepakati pada 2015. Berdasarkan perjanjian tersebut, Iran bersedia membatasi pengayaan uranium dan menerima inspeksi sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi. Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan itu pada 2018, saat menjalani masa jabatan pertamanya.

Obama juga menyoroti pengaruh Iran terhadap jalur pelayaran energi internasional di tengah perang yang sedang berlangsung.

"Saat ini, Iran memiliki hak veto atas Selat Hormuz, jalur yang dilalui minyak untuk didistribusikan ke pasar dunia," ujar Obama.

Ia menghubungkan konflik tersebut dengan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat Amerika Serikat, terutama melalui kenaikan harga energi.

"Inilah alasan mengapa harga minyak naik. Inilah alasan mengapa harga bahan bakar diesel naik. Inilah alasan mengapa harga hampir semua barang mengalami kenaikan," ujar Obama.

Dalam laporan Beritasatu, Obama juga menilai kebijakan Trump telah memperburuk situasi politik dan pemerintahan. Ia menyampaikan kritik tersebut ketika berkampanye untuk mendukung Sherrod Brown, mantan senator Demokrat yang berupaya kembali ke Senat dengan menantang senator petahana dari Partai Republik, Jon Husted.

Obama mengkritik keputusan presiden saat ini dan menilai perang tersebut tidak diperlukan.

"Presiden saat ini memilih untuk membuat serangkaian keputusan buruk," ujar Obama.

Ia kemudian menekankan penolakannya terhadap konflik militer dengan Iran.

"Yang terpenting, dia memutuskan untuk memulai perang yang tidak perlu dan tidak diinginkan siapa pun," ujar Obama.

Di Cleveland, Obama mengaitkan pemilihan mendatang dengan kesempatan bagi pemilih untuk menyatakan penolakan terhadap kinerja pemerintahan Trump selama dua tahun terakhir.

"Setelah 2 tahun kekacauan, kekejaman, korupsi, dan ketidakkompetenan, yang belum pernah kita lihat di era modern, Anda mendapat kesempatan untuk mengatakan, 'Cukup sudah,'" ujar Obama.

Dalam kesempatan yang sama, ia menegaskan dukungannya terhadap perubahan politik di Ohio.

"Kita memilih perubahan di sini, di Ohio," ujar Obama.

Di Michigan, Obama berkampanye untuk Abdul El-Sayed, kandidat Demokrat yang bersaing dengan kandidat Republik Mike Rogers untuk memperebutkan kursi Senat AS. Ia juga menyebut Senator Demokrat Elissa Slotkin, yang tidak mencalonkan diri kembali pada pemilihan tahun ini.

Obama menggambarkan kemungkinan kerja sama antara kedua tokoh Demokrat tersebut sebagai pasangan politik yang kuat.

"Bayangkan duet hebat Abdul dan Elissa," ujar Obama.

Ia kemudian menyoroti latar belakang agama kedua tokoh yang disebutnya sebagai representasi keberagaman.

"Anda memiliki seorang pria muslim, Anda memiliki seorang wanita Yahudi yang memperjuangkan Anda di Senat Amerika Serikat. Itu adalah sesuatu yang bisa Anda banggakan, Michigan," ujar Obama.

Karena pemungutan suara awal telah dibuka di Ohio dan Michigan, Obama turut mendesak masyarakat agar tidak menunda pemberian suara.

"Jangan menunda-nunda, jangan bertele-tele," ujar Obama.

Selain kebijakan luar negeri, Obama mengkritik proyek renovasi yang dilakukan Trump di Washington, termasuk pembenahan Kolam Refleksi National Mall, pembangunan ballroom berukuran besar di Gedung Putih, serta penggunaan dekorasi berlapis emas di Ruang Oval pada masa jabatan keduanya.

Obama menggunakan perbandingan satir untuk menggambarkan penilaiannya terhadap perubahan interior Gedung Putih.

"Dia membuat Gedung Putih terlihat seperti Saddam Hussein membuka Cheesecake Factory," ujar Obama.

Menurut laporan Beritasatu, sejumlah jajak pendapat nasional menunjukkan Partai Demokrat berpeluang merebut kembali kendali Dewan Perwakilan Rakyat AS. Persaingan untuk menguasai Senat diperkirakan lebih ketat, sementara pemilihan paruh waktu dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026.

Sumber: SuaraGarut.ID. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with