Kapal Kargo Singapura GFS Pride Tenggelam di Selat Hormuz Usai Diserang
Kapal kargo berbendera Singapura GFS Pride tenggelam di Selat Hormuz usai diserang. Sebanyak 21 awak berhasil dievakuasi tanpa cedera.

Jakarta — Kapal kargo berbendera Singapura, GFS Pride, tenggelam di Selat Hormuz setelah mengalami serangan yang memicu kebakaran. Seluruh 21 awak kapal berhasil dievakuasi sebelum kapal tersebut tenggelam, tanpa ada korban luka.
Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura (MPA) menyatakan, GFS Pride mengalami kerusakan akibat hantaman proyektil yang belum diketahui jenisnya ketika melintasi Selat Hormuz pada Selasa (13/10).
Insiden tersebut menambah daftar kapal yang menjadi sasaran serangan di jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan perairan internasional tersebut.
Menurut Bloomberg, tenggelamnya kapal kontainer hingga mengalami kerugian total merupakan kejadian yang relatif jarang. Perusahaan asuransi Allianz Commercial mencatat hanya 33 kejadian serupa selama periode 2016–2025.
Risiko pelayaran dan aktivitas perdagangan di Selat Hormuz meningkat seiring intensifikasi serangan Iran dalam upaya menegaskan kembali kendalinya atas jalur perairan strategis tersebut.
Selain GFS Pride, kapal kargo lain berbendera Singapura, GFS Giselle, turut mengalami serangan pada Rabu (14/10). Menurut MPA, serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada bagian lambung kapal.
Meski demikian, GFS Giselle masih mampu berlayar menggunakan tenaganya sendiri menuju lokasi labuh yang aman. Seluruh 22 awak kapal dilaporkan selamat dan tidak mengalami cedera.
Sebelumnya, kapal pengangkut barang curah Cape Dao juga tenggelam setelah diserang pada 23 September. Organisasi Maritim Internasional (IMO) melaporkan satu awak kapal meninggal dunia dalam insiden tersebut, meskipun tidak merinci tanggal pasti kapal itu tenggelam.
Serangkaian serangan terhadap kapal di kawasan tersebut turut meningkatkan risiko industri pelayaran dan perdagangan energi global.
Serangan terhadap kapal tanker minyak menambah premi risiko pada harga minyak mentah serta mendorong kenaikan biaya sewa kapal di pasar internasional.
Pekan lalu, Amerika Serikat menyatakan telah menghancurkan sebuah kapal yang disebut memiliki keterkaitan dengan Iran di Teluk Oman.
Sementara itu, Global Feeder Shipping, perusahaan yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA) sekaligus pemilik GFS Pride dan GFS Giselle, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Peonies Shipmanagement, operator Cape Dao yang juga berbasis di UEA, menolak memberikan komentar. (Frd)
Sumber: Editor Indonesia. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Festival Berlabuh Deli Serdang Tembus 125 Besar Event Nasional
Berawal dari inisiatif para alumni Duta Wisata sejak 2023, Festival Budaya Berlabuh di Deli Serdang terus berkembang hingga masuk dalam 125 besar Karisma Event...
Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan serangkaian arahan tegas dan peringatan keras kepada AS dan Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah memerintahkan militer untuk memperbarui daftar target AS dan Israel serta bersiap untuk menanggapi ancaman apa pun, tanpa memandang...
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Prabowo Terima 250 Anggota Kadin di Hambalang
Prabowo menerima 250 anggota Kadin dan 400 peserta P3MDI di Hambalang. Pertemuan membahas investasi domestik dan pengembangan industri masa depan.