Jerman Siap Berunding dengan Iran di Tengah Ketegangan Regional
Jerman, Prancis, dan Inggris menyatakan kesiapan berunding dengan Iran mengenai program nuklir, sementara tujuh negara bertemu di Istanbul membahas krisis global.

Upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap konflik regional. Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyatakan bahwa Jerman, Prancis, dan Inggris siap berunding dengan Iran mengenai program nuklirnya, sementara tujuh negara dari Eropa, Timur Tengah, dan Asia Selatan bertemu di Istanbul pada 23 Oktober 2026 untuk membahas sejumlah krisis internasional.
Menurut laporan Kantor Berita Fars yang dikutip Ahlulbait Indonesia, Wadephul menilai konflik dengan Iran tidak dapat diselesaikan melalui kekuatan militer. Ia juga memperingatkan dampak konflik baru terhadap stabilitas kawasan, perekonomian global, dan masyarakat Eropa.
Jerman, Prancis, dan Inggris, yang dikenal sebagai kelompok E3 atau Troika Eropa, merupakan pihak dalam kesepakatan nuklir Iran yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA). Perjanjian tersebut ditandatangani Iran dan lima kekuatan dunia pada 2015.
Setelah Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan itu, ketiga negara Eropa berjanji membantu mengurangi dampak keputusan Washington terhadap Iran. Namun, menurut laporan Ahlulbait Indonesia, kegagalan memenuhi janji tersebut mendorong Teheran mengurangi komitmen nuklirnya setahun kemudian.
Pada tahun sebelumnya, negara-negara E3 juga mengaktifkan mekanisme snapback untuk memulihkan sanksi terhadap Iran. Iran, Rusia, dan China menilai langkah tersebut ilegal. Jerman dan sejumlah negara Eropa juga tidak mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, sementara Berlin menyatakan dukungan terhadap serangan tersebut.
Ketegangan sebelumnya meningkat dalam perang selama 12 hari pada Juni–Juli tahun lalu, ketika fasilitas nuklir Iran menjadi sasaran serangan Israel. Dalam periode tersebut, Kanselir Jerman menggambarkan tindakan Israel sebagai pekerjaan yang dilakukan atas nama negaranya.
Kekhawatiran terhadap dampak konflik juga tercermin dalam pasar energi. Menurut laporan Ahlulbait Indonesia, harga minyak mentah Brent untuk pertama kalinya dalam enam bulan mencapai 116 dolar AS per barel beberapa jam sebelum pernyataan Wadephul diberitakan. Pada pertengahan Mei, harga minyak tersebut telah menembus 114 dolar AS per barel.
Di jalur diplomasi regional, Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan menjadi tuan rumah pertemuan di Istanbul yang mempertemukan kelompok E3 dengan kelompok R4, beranggotakan Turkiye, Arab Saudi, Pakistan, dan Mesir. Menurut sumber Kementerian Luar Negeri Turkiye yang dikutip Kabarika.id dan MINA, pertemuan tersebut merupakan yang pertama dalam format gabungan R4+E3.
Ketujuh negara dijadwalkan membahas isu Palestina, perkembangan di Yaman, keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandab, serta upaya mengakhiri perang Rusia-Ukraina. Pertemuan itu juga menjadi forum untuk menjajaki peluang koordinasi dan kerja sama diplomatik lintas kawasan.
Sumber Kementerian Luar Negeri Turkiye menyatakan bahwa pertemuan tersebut bertujuan membuka peluang kerja sama yang dapat diterapkan pada masa mendatang.
"Ketujuh negara akan berkumpul untuk pertama kalinya dalam format R4+E3, atas inisiatif Turkiye. Mereka akan menjajaki peluang kerja sama dan koordinasi yang dapat diterapkan pada masa mendatang," ujar sumber Kementerian Luar Negeri Turkiye.
Menurut laporan MINA, Fidan diperkirakan akan mendorong peningkatan tekanan internasional terhadap Israel sebagai tanggapan atas perluasan permukiman di Tepi Barat yang diduduki dan meningkatnya kekerasan oleh para pemukim. Ia juga akan menegaskan dukungan Turkiye terhadap keamanan Arab Saudi dalam menghadapi serangan kelompok Houthi dari Yaman.
Dalam pembahasan keamanan maritim, Turkiye akan menekankan pentingnya menjamin kebebasan navigasi secara permanen di Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandab. Kedua jalur tersebut menjadi bagian dari agenda pembicaraan mengenai keamanan regional dan kelancaran pelayaran.
Fidan juga akan menyampaikan kembali usulan Turkiye untuk mencegah perang Rusia-Ukraina meluas ke Laut Hitam dan menekan jatuhnya korban sipil. Menurut Kabarika.id, pertemuan tersebut merupakan inisiatif Ankara untuk mempertemukan para menteri luar negeri dari dua kelompok negara yang memiliki kepentingan diplomatik dan keamanan di kawasan masing-masing.
Kelompok E3 dibentuk pada 2003 untuk mengoordinasikan perundingan mengenai program nuklir Iran, sedangkan R4 dibentuk pada 2026 sebagai mekanisme kerja sama regional. Menurut laporan MINA, pembentukan R4 berkaitan dengan Perjanjian Pertahanan Makkah yang ditandatangani Turkiye, Arab Saudi, dan Pakistan pada Agustus 2026, dengan Mesir turut menjadi anggota kelompok tersebut.
Sumber: SuaraGarut.ID. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
500 Ribu Orang Diperkirakan Ikuti Demonstrasi Nasional di Prancis Hari Ini
Sebanyak 500.000 orang diperkirakan mengikuti demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Prancis hari ini, Sabtu (31/10/2026), untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Pemerintah Prancis menyiapkan sekitar...
TechConnect Gelar Liga Matematika Nasional Berhadiah Rp 1 Miliar
TechConnect menggelar The Genius Math League 2026 untuk menjaring talenta matematika dari SD hingga mahasiswa dengan total hadiah Rp 1 miliar.
Harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam enam bulan di tengah kekhawatiran atas situasi AS-Iran.
Menjelang akhir pekan, harga minyak berbalik arah dan melonjak ke level tertinggi sejak akhir April 2026, karena kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran dapat meningkat...