Washington Post: Iran Tidak Akan Tunduk pada Tekanan
Media ABI, 24 Oktober 2026 – Surat kabar The Washington Post menilai Iran tidak akan menyerah menghadapi tekanan Amerika Serikat dan tengah berupaya membentuk tatanan baru di kawasan. Penilaian tersebut...

Media ABI, 24 Oktober 2026 – Surat kabar The Washington Post menilai Iran tidak akan menyerah menghadapi tekanan Amerika Serikat dan tengah berupaya membentuk tatanan baru di kawasan. Penilaian tersebut disampaikan dalam artikel opini berjudul “Why Trump Is Failing to Make Iran Flinch”, yang terbit pada Jumat, 23 Oktober 2026. Artikel itu ditulis oleh Reuel Marc Gerecht, peneliti Foundation for Defense of Democracies, dan Ray Takeyh, peneliti senior Council on Foreign Relations.
Dalam analisis tersebut, Gerecht dan Takeyh menulis bahwa Republik Islam Iran, yang terlibat dalam perang berkepanjangan dengan Amerika Serikat, memiliki tujuan-tujuan strategis yang jelas.
Keduanya menilai keputusan terbaru Presiden AS Donald Trump untuk mengirim satu kapal induk tambahan ke kawasan, disertai ancaman untuk kembali melancarkan kampanye pengeboman besar-besaran setelah pemilihan paruh waktu Kongres, tidak akan mengubah tujuan Teheran.
Kedua penulis menyebut Iran berupaya membentuk tatanan baru di kawasan. Dalam tatanan tersebut, Iran ingin memberlakukan pungutan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz sekaligus mengakhiri hubungan keamanan antara Amerika Serikat dan negara-negara Arab di pesisir Teluk Persia.
Menurut Gerecht dan Takeyh, Teheran juga berupaya mencari cara untuk mencegah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer pada masa mendatang.
Keduanya berpandangan bahwa, dari sudut pandang para pemimpin Iran, setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang harus berujung pada penarikan mundur Amerika Serikat.
Analisis tersebut juga menyoroti peran kelompok-kelompok yang sejalan dengan Iran di kawasan. Kedua penulis menilai Teheran memberikan perhatian lebih besar kepada Arab Saudi dalam menentukan prioritas regionalnya. Mereka juga menyebut Houthi Yaman (Ansharullah Yaman) telah menjadi salah satu instrumen regional Iran yang paling efektif.
Gerecht dan Takeyh menilai ketidakmampuan Arab Saudi menghadapi Houthi secara efektif niscaya akan semakin memperbesar keinginan Iran untuk mempermalukan Mohammed bin Salman, putra mahkota sekaligus penguasa de facto Arab Saudi.
Analisis tersebut menegaskan bahwa tekanan militer dan finansial Amerika Serikat tidak serta-merta akan memaksa Teheran mengendurkan pendiriannya. Dengan demikian, tekanan Washington belum tentu berujung pada kemunduran Iran dari tujuan-tujuan yang hendak dicapainya. []
Sumber: Ahlulbait Indonesia. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Festival Berlabuh Deli Serdang Tembus 125 Besar Event Nasional
Berawal dari inisiatif para alumni Duta Wisata sejak 2023, Festival Budaya Berlabuh di Deli Serdang terus berkembang hingga masuk dalam 125 besar Karisma Event...
Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan serangkaian arahan tegas dan peringatan keras kepada AS dan Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah memerintahkan militer untuk memperbarui daftar target AS dan Israel serta bersiap untuk menanggapi ancaman apa pun, tanpa memandang...
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Prabowo Terima 250 Anggota Kadin di Hambalang
Prabowo menerima 250 anggota Kadin dan 400 peserta P3MDI di Hambalang. Pertemuan membahas investasi domestik dan pengembangan industri masa depan.