Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Palestina

23 Serangan Israel Sasar Petani Palestina saat Musim Panen Zaitun di Tepi Barat

Pasukan Israel dan pemukim ilegal Israel melakukan 23 serangan dan pelanggaran terhadap petani Palestina dalam kurun 12 jam pada Rabu,

Sumber foto: Adara Relief International

Pasukan Israel dan pemukim ilegal Israel melakukan 23 serangan dan pelanggaran terhadap petani Palestina dalam kurun 12 jam pada Rabu, 21 Oktober 2026. Insiden tersebut terjadi di tujuh kegubernuran di Tepi Barat yang diduduki, bertepatan dengan musim panen zaitun yang merupakan sumber pendapatan penting bagi ribuan keluarga Palestina.

Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina melaporkan bahwa serangan berlangsung pukul 06.00 hingga 18.00 waktu setempat. Sebanyak 10 insiden terjadi di Nablus, enam di Ramallah dan Al-Bireh, serta dua di masing-masing Salfit dan Hebron. Qalqilya, Jenin, dan Bethlehem masing-masing mencatat satu insiden.

Pelanggaran meliputi penembakan, kekerasan fisik, penangkapan, larangan memanen zaitun, perampasan hasil panen dan peralatan pertanian, serta pembakaran dan perataan lahan.

Di Osarin, Nablus, seorang petani tertembak peluru tajam di bagian tangan saat memanen zaitun. Sementara itu, seorang petani di Qarawat Bani Hassan, Salfit, mengalami gangguan pernapasan parah setelah terkena semprotan merica.

Di Nahalin, dekat Bethlehem, pasukan Israel menyerang petani dan aktivis solidaritas. Mereka menangkap seorang perempuan lanjut usia serta sejumlah aktivis, termasuk Brad Lander, kandidat Partai Demokrat untuk Kongres Amerika Serikat. Pasukan Israel juga menyita hasil panen zaitun.

Di wilayah Nablus, pemukim Israel membakar lahan pertanian di Burqa. Selain itu, mereka juga meratakan lahan yang ditanami pohon zaitun di Madama dengan menggunakan buldoser. Pemukim juga merampas hasil panen dengan todongan senjata dan mengusir keluarga Palestina dari ladang mereka.

Di Ramallah dan Al-Bireh, Israel melarang petani memasuki lahan di sejumlah wilayah. Pasukan Israel juga menetapkan Turmus Ayya sebagai zona militer tertutup sehingga petani, jurnalis, dan staf komisi tidak dapat mengakses lahan pertanian.

Komisi tersebut memperingatkan bahwa serangan, penutupan wilayah, penangkapan, dan perampasan hasil panen semakin menyulitkan petani Palestina untuk mempertahankan mata pencaharian mereka. Komisi juga mendesak langkah nyata untuk menjamin akses aman petani ke lahan serta meminta pertanggungjawaban pihak yang melakukan serangan.

Sumber: Adara Relief International. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with