Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Iran

Kapal GFS Pride Tenggelam dan Kontainer Hanyut di Selat Hormuz

GFS Pride berbendera Singapura tenggelam di dekat Selat Hormuz setelah terkena proyektil, sementara 21 awak selamat dan ribuan kontainer hanyut.

Sumber foto: Suara Independent News

Tenggelamnya kapal kontainer GFS Pride berbendera Singapura di dekat Selat Hormuz, Oman, pada Selasa (13/10/2026), membuat ribuan peti kemas hanyut di laut dan meningkatkan risiko bagi pelayaran di kawasan tersebut. Kapal itu tenggelam setelah mengalami kerusakan dan kebakaran akibat hantaman proyektil yang belum teridentifikasi, menurut Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura.

Seluruh 21 awak GFS Pride berhasil dievakuasi tanpa laporan korban luka. Pihak berwenang belum memastikan jenis proyektil yang menghantam kapal tersebut, sementara peti kemas yang terlepas dari kapal terus menjadi perhatian demi keselamatan pelayaran.

Menurut laporan CNN Indonesia, ahli hidrografi Pakistan memperingatkan para pelaut bahwa bangkai GFS Pride berada sekitar 7,4 kilometer di barat laut Ras al-Sheikh Masud, Semenanjung Musandam, Oman.

Insiden lain juga menimpa kapal kontainer berbendera Singapura, GFS Giselle, pada Rabu (14/10/2026). Kapal itu mengalami kerusakan pada lambung akibat hantaman proyektil, tetapi berhasil mencapai tempat berlabuh yang aman bersama seluruh 22 awaknya.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan sebuah kapal tenggelam setelah menabrak ranjau laut ketika melintasi jalur yang disebutnya sebagai rute tidak resmi di Selat Hormuz. IRGC juga merilis foto yang diduga memperlihatkan kapal dengan bagian buritan terendam air, kepulan asap hitam, serta sejumlah kontainer mengapung di laut.

Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) sebelumnya melaporkan dua kapal kontainer yang tidak disebutkan namanya terkena proyektil tak dikenal pada Selasa (12/10/2026), antara pukul 16.40 dan 17.00 GMT. Kedua kapal mengalami kerusakan ringan dan masih dapat melanjutkan perjalanan, tetapi UKMTO tidak memastikan apakah kapal-kapal tersebut adalah GFS Pride dan GFS Giselle.

Di tengah gangguan pelayaran, militer Iran menegaskan bahwa kapal yang melintasi Selat Hormuz harus berkoordinasi dengan angkatan bersenjata negara tersebut. Wakil Kepala Bidang Koordinasi Angkatan Bersenjata Iran, Laksamana Muda Habibollah Sayyari, menyampaikan posisi itu kepada wartawan pada Kamis (15/10/2026), dalam sebuah upacara penghargaan bagi perawat kesehatan militer.

Sayyari menjelaskan bahwa Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran berjaga di bagian barat selat, sedangkan Angkatan Darat Iran beroperasi di bagian timur hingga wilayah utara yang mengarah ke Laut Oman.

Ia kembali menegaskan kewajiban koordinasi bagi kapal yang hendak melintas.

"Jika koordinasi tidak dilakukan, maka militer dapat mengambil tindakan seperti yang diberitakan," ujar Habibollah Sayyari.

Sayyari juga menyatakan bahwa pembukaan jalur pelayaran secara bebas akan membantu memulihkan distribusi minyak dan meredakan tekanan harga bahan bakar di Amerika Serikat maupun negara lain. Namun, ia menegaskan bahwa Iran tetap menutup lalu lintas di Selat Hormuz.

Menurut laporan ANTARA, gangguan di selat yang terletak di antara Iran dan Oman itu telah berlangsung sejak awal Maret 2026, setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Teheran menyatakan penerapan aturan navigasi di kawasan tersebut merupakan bagian dari upaya mempertahankan kedaulatan negara.

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur strategis tersebut, sehingga gangguan lalu lintas kapal berdampak terhadap distribusi energi internasional.

Menurut laporan CNN Indonesia, serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz dan sejumlah wilayah lain di Timur Tengah telah berlangsung sejak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai pada Februari 2026. Organisasi Maritim Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat sedikitnya 24 pelaut tewas dalam 106 insiden yang telah dikonfirmasi.

Upaya membuka kembali jalur pelayaran sempat muncul melalui kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran pada Juni 2026. Namun, kesepakatan tersebut runtuh beberapa minggu kemudian setelah serangan terhadap kapal kembali terjadi dan Amerika Serikat memberlakukan lagi blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sumber: Suara Independent News. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with