Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Perang

Survei Kepuasan Donald Trump Turun 36 Persen Jelang Pemilu Midterm, Isu Biaya Hidup dan Perang Iran Jadi Pemicu

Tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump merosot menjadi 36 persen, hanya sekitar dua pekan sebelum pemilihan paruh waktu atau midterm elections. Hasil survei New York…

Sumber foto: AFU.id

Tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump merosot menjadi 36 persen, hanya sekitar dua pekan sebelum pemilihan paruh waktu atau midterm elections. Hasil survei New York Times/Siena College menunjukkan ketidakpuasan masyarakat terutama berkaitan dengan kondisi ekonomi, biaya hidup, dan perang dengan Iran. Berdasarkan survei terhadap sekitar 3.494 pemilih yang diperkirakan akan memberikan suara, sebanyak 36 persen menyatakan menyetujui kinerja Trump sebagai presiden. Sebaliknya, 59 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kinerjanya.

Angka tersebut merupakan tingkat persetujuan terendah Trump dalam rangkaian survei New York Times/Siena College. Dibandingkan survei September, tingkat persetujuannya turun dua poin persentase pada Oktober. Hasil survei ini menjadi tantangan bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu midterm yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026. Pemilu tersebut akan menentukan komposisi Kongres AS dan memengaruhi kemampuan pemerintahan Trump menjalankan agenda politiknya.

Salah satu faktor utama di balik rendahnya tingkat persetujuan Trump adalah persoalan ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat Amerika Serikat. Dalam survei tersebut, 73 persen pemilih terdaftar menyatakan tidak puas terhadap penanganan harga bensin oleh pemerintahan Trump. Sementara itu, 69 persen tidak puas terhadap penanganan biaya hidup dan 64 persen menyatakan ketidakpuasan terhadap kebijakan ekonomi secara umum.

Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan ekonomi menjadi persoalan penting bagi pemilih menjelang pemilu. Harga kebutuhan sehari-hari, biaya transportasi, dan pengeluaran rumah tangga menjadi isu yang berpotensi memengaruhi pilihan politik masyarakat.

Trump sebelumnya berkampanye dengan janji menurunkan biaya hidup, menjaga inflasi tetap rendah, dan memperbaiki kondisi ekonomi warga Amerika. Namun, sejumlah indikator ekonomi yang disebut dalam laporan survei menunjukkan tekanan masih berlangsung. Hingga 21 Oktober, harga bensin dilaporkan berada di atas US$4,25 per galon. Inflasi juga meningkat menjadi 3,7 persen pada bulan sebelumnya.

Faktor lain yang membebani tingkat persetujuan Trump adalah perang dengan Iran yang, menurut bahan laporan, telah berlangsung hampir delapan bulan. Sebanyak 65 persen responden menyatakan tidak puas terhadap penanganan perang tersebut. Konflik itu juga dikaitkan dengan kenaikan harga minyak dan bensin yang menambah tekanan terhadap biaya hidup masyarakat.

Sebelum kembali menjabat sebagai presiden, Trump berjanji tidak akan melibatkan Amerika Serikat dalam lebih banyak perang di luar negeri. Namun, keterlibatan AS dalam konflik dengan Iran menjadi salah satu isu yang dipersoalkan pemilih. Ketidakpuasan terhadap perang dan dampak ekonominya dapat saling memperkuat. Ketika konflik luar negeri ikut mendorong kenaikan biaya energi, persoalan kebijakan luar negeri tidak lagi dipandang terpisah dari kebutuhan ekonomi rumah tangga.

Meski demikian, hasil survei tersebut menunjukkan hubungan antara penilaian publik dan sejumlah persoalan kebijakan, bukan bukti bahwa satu faktor tertentu menjadi penyebab tunggal penurunan popularitas Trump Dalam survei New York Times/Siena College, sebanyak 52 persen responden mengatakan berencana memilih kandidat Partai Demokrat dalam pemilu mendatang.

Partai Demokrat memanfaatkan isu biaya hidup untuk menarik pemilih independen dan pemilih yang belum menentukan pilihan. Mereka mengkritik kebijakan ekonomi pemerintahan Trump, termasuk tarif impor yang dinilai berpotensi meningkatkan biaya barang. Sementara itu, Trump tetap aktif berkampanye untuk mendukung kandidat Partai Republik yang sejalan dengan gerakan Make America Great Again (MAGA). Popularitas dan pengaruh Trump selama ini menjadi salah satu modal politik bagi kandidat partainya. (EER)

Sumber: AFU.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with