Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Houthi

Arab Saudi Cegat Empat Drone Houthi Saat 49 Ribu Jemaah Umrah Aman

Arab Saudi mencegat empat drone di Riyadh dan Madinah di tengah eskalasi konflik Houthi, sementara Kemlu memastikan 49.000 jemaah umrah Indonesia aman.

Sumber foto: Suara Independent News

Eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi dari Yaman memicu pencegatan empat pesawat nirawak di wilayah Riyadh dan Madinah. Di tengah meningkatnya serangan terhadap sejumlah fasilitas di negara tersebut, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan 49.000 jemaah umrah Indonesia tetap aman, meskipun gangguan penerbangan sempat terjadi.

Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Turki Al-Malki, menyampaikan bahwa empat drone telah dicegat dan dihancurkan di kedua wilayah tersebut. Informasi itu disampaikan melalui platform X pada Kamis (22/10/2026), sebagaimana dilaporkan AFP.

Ketegangan juga berdampak pada aktivitas di sektor energi. Menurut laporan AFP yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui situasi tersebut, staf esensial di kantor pusat Aramco di wilayah timur Arab Saudi diminta bekerja dari rumah sampai pemberitahuan lebih lanjut. Sebelumnya, staf non-esensial telah diarahkan bekerja dari rumah sejak pekan sebelumnya, menyusul serangan terhadap fasilitas di Dhahran.

Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, memastikan kondisi jemaah umrah Indonesia masih terkendali. Dalam taklimat media di Jakarta pada Kamis, ia menyampaikan bahwa puluhan ribu jemaah yang berada di Arab Saudi berada dalam keadaan aman.

"Saat ini di Arab Saudi terdapat 49.000 jamaah umrah, dan semuanya dalam keadaan aman," ujar Heni Hamidah, Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI.

Heni membenarkan serangan Houthi terhadap sejumlah bandara sempat mengganggu operasional penerbangan, terutama di Riyadh. Namun, penerbangan di Bandara Jeddah dan Madinah telah kembali beroperasi normal, dengan tingkat pembatalan sebesar 7 persen dan penundaan 11 persen di kedua bandara tersebut.

Untuk membantu warga negara Indonesia yang terdampak gangguan perjalanan, personel KJRI Jeddah menjalankan piket siaga selama 24 jam di bandara. Kemlu juga memastikan warga negara Indonesia (WNI) dan pekerja migran Indonesia (PMI) yang menetap di Arab Saudi berada dalam kondisi aman.

Ancaman keamanan meningkat setelah sejumlah bandara Saudi menjadi sasaran serangan. Menurut laporan Sputnik yang dikutip Antara, serangan terhadap Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh pada 10 Oktober menewaskan 12 orang dan melukai 309 orang. Serangan berikutnya pada 11 Oktober di bandara yang sama menewaskan satu orang dan melukai 11 lainnya.

Pada 21 Oktober, serangan drone Houthi juga menyasar Bandara Internasional Raja Fahd di Dammam. Menurut laporan yang sama, dua orang tewas dan delapan lainnya terluka dalam serangan tersebut.

Di sisi lain, Duta Besar Arab Saudi untuk Yaman, Mohammed Al Jaber, menuduh kelompok Houthi memanfaatkan krisis ekonomi dan kemanusiaan untuk membiayai operasi militer serta menghambat proses perdamaian. Dalam pernyataan yang diunggah melalui X pada Selasa (20/10), ia menyoroti pengalihan pendapatan negara yang menurutnya berasal dari pajak, bea cukai, dan sektor telekomunikasi.

Al Jaber juga menyoroti situasi di Taiz, tempat pasukan pemerintah Yaman menghadapi serangan Houthi. Ia menuduh kelompok tersebut mengepung warga sipil dan menghambat akses terhadap kebutuhan pokok, termasuk makanan dan obat-obatan.

"Yaman bukan milik Houthi, dan Taiz tidak akan tetap menjadi sandera agenda mereka," ujar Mohammed Al Jaber, Duta Besar Arab Saudi untuk Yaman.

Dalam pernyataannya, Al Jaber merujuk laporan Panel Pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diterbitkan pada 2024. Laporan tersebut mendokumentasikan penggunaan jaringan telekomunikasi untuk menggalang dana bagi pasukan drone dan pertahanan pantai Houthi melalui pengiriman jutaan pesan kepada pelanggan.

Panel itu mencatat bahwa otoritas Houthi mengumpulkan sekitar 994 miliar riyal Yaman atau US$4,2 miliar dari bea cukai impor bahan bakar yang melewati pelabuhan yang mereka kuasai pada April 2022 hingga Juni 2024. Setelah memperhitungkan biaya tambahan dan margin keuntungan, total pendapatan dari sektor bahan bakar diperkirakan mencapai 1,34 triliun riyal Yaman selama periode tersebut.

Al Jaber juga mengutip siaran pers Kementerian Keuangan Amerika Serikat pada Januari yang menyebut Houthi menghasilkan US$2 miliar setiap tahun dari penyelundupan minyak. Ia menuduh pendapatan tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan militer, alih-alih memenuhi kebutuhan dasar masyarakat Yaman.

Konflik antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi kembali memanas pada pertengahan Juli setelah mereda selama empat tahun. Menurut laporan Antara, eskalasi berkaitan dengan serangan Houthi terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah sebagai balasan atas serangan militer Yaman terhadap bandara di Sanaa.

Situasi kemanusiaan di Yaman turut memburuk akibat pertempuran dan terputusnya jalur pasokan utama di Taiz. Laporan CNN Indonesia menyebut kondisi tersebut memicu kenaikan harga pangan dan bahan bakar serta memaksa ribuan warga mengungsi. Pada Selasa (20/10), serangan rudal Houthi di kawasan permukiman Taiz dilaporkan menewaskan dua remaja perempuan dan melukai enam orang lainnya, menurut otoritas setempat.

Kepala hak asasi manusia PBB, Volker Turk, memperingatkan bahwa pengepungan di Taiz membahayakan warga sipil dan menyerukan pembukaan akses bantuan kemanusiaan. Sementara itu, Arab Saudi menyatakan akan terus mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional serta upaya pemulihan keamanan dan stabilitas negara tersebut.

Sumber: Suara Independent News. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with