Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Bencana Alam

Di Antara Abu, Trauma, dan Mitos: Dinamika Memori Kolektif Bencana Erupsi Gunung Merapi dalam Sejarah Lokal.

Oleh : Syaelendra Farrel Mandha Saputra Bagi masyarakat agraris di jantung Pulau Jawa, Gunung Merapi bukanlah sekadar monumen geologis yang memuntahkan lava dan awan panas. Merapi adalah entitas hidup, pusat...

Sumber foto: SuaraBaru.id

Bagi masyarakat agraris di jantung Pulau Jawa, Gunung Merapi bukanlah sekadar monumen geologis yang memuntahkan lava dan awan panas. Merapi adalah entitas hidup, pusat spiritual, dan aktor utama yang secara konstan membentuk ulang lanskap ekologis maupun sosiologis masyarakat di lerengnya. Sebagai sebuah peristiwa historis, erupsi Merapi, khususnya letusan-letusan besar seperti tahun 1930, 1994, 2006, dan yang paling membekas pada 2010, tidak hanya meninggalkan jejak abu vulkanik, tetapi juga endapan memori di benak masyarakat.

Dalam kajian sejarah lokal, memori kolektif masyarakat lereng Merapi menawarkan konsep yang kompleks. Memori ini tidak pernah bersifat tunggal. Sebaliknya, ia merupakan ruang berdebatan di mana pengalaman traumatis akan kehancuran bernegosiasi dengan mitologi yang telah berakar selama berabad-abad. Analisis terhadap memori kolektif ini memungkinkan kita untuk melihat bagaimana masyarakat lokal tidak hanya menjadi korban pasif dari bencana alam, melainkan agen yang aktif merekonstruksi makna hidup mereka pasca-bencana.

Realitas Fisik dan Konstruksi Trauma Kolektif

Abu vulkanik (wedhus gembel) adalah penanda fisik paling purba dari siklus destruksi Merapi. Dalam kacamata sejarah erupsi membawa realitas traumatis: hilangnya nyawa, musnahnya ternak dan lahan pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi, serta ketercabutan paksa dari kehidupan sehari-hari. Trauma kolektif ini diwariskan tidak selalu melalui narasi tertulis, melainkan lewat tuturan lisan, pantangan-pantangan baru, dan perubahan perilaku spasial masyarakat.

Bagi pelaku, memori tentang “abu” adalah memori sementara seolah waktu terbelah menjadi dua: “sebelum” dan “sesudah” letusan. Erupsi 2010, misalnya, meruntuhkan rasa aman yang selama ini dipegang oleh sebagian masyarakat yang merasa desanya berada di zona aman secara historis. Trauma ini menciptakan apa yang disebut oleh sosiolog Maurice Halbwachs sebagai “kerangka sosial memori” (social frameworks of memory), di mana ingatan akan bencana dikelola bersama untuk membangun semangat kolektif. Desa-desa kini menjadi monumen dari trauma tersebut, di mana masyarakat harus menegosiasikan identitas lama mereka dengan lingkungan yang sepenuhnya baru.

Mitos sebagai Mekanisme Rasionalisasi dan Penawar Trauma

Dalam menghadapi kedahsyatan alam yang berada di luar kendali manusia, masyarakat lereng Merapi bersandar pada kepercayaan lokal yang berwujud mitos. Dalam kepercayaan Jawa, Merapi adalah titik utara dari poros yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu Pal Putih, Kraton Yogyakarta, Panggung Krapyak, dan Laut Selatan. Merapi dijaga oleh entitas spiritual, dan erupsinya sering dimaknai bukan sebagai kejadian geologis, melainkan sebagai prosesi “punya kerja” (hajatan) dari keraton gaib, atau bentuk teguran terhadap ketidakseimbangan moral manusia.

Bagi seorang peneliti sejarah kritis, mitos ini tidak boleh sekadar sebagai takhayul. Mitos adalah coping mechanism (mekanisme pertahanan psikologis) yang sangat canggih. Ketika sains modern menjelaskan erupsi melalui statistik, mitos memberikan penjelasan yang lebih berdimensi manusiawi. Keberadaan sosok tokoh kunci atau tetua seperti almarhum Mbah Maridjan (hingga 2010) merupakan representasi dari memori kultural ini. Penolakannya untuk turun gunung pada erupsi 2006 dan 2010 bukanlah bentuk bunuh diri, melainkan konsistensi menjaga harmoni kepercayaan berdasarkan memori warisan leluhur. Melalui mitos, trauma atas kehancuran yang mengerikan dapat dimaknai menjadi sebuah takdir yang bermakna dan siklus alam yang harus dihormati.

Kajian sejarah lokal mengenai erupsi Merapi membuktikan bahwa bencana alam tidak hanya mengubah dirinya sendiri, tetapi juga pola pikiran manusia. Di antara abu kehancuran, trauma kehilangan, dan mitos-mitos kepercayaan, masyarakat lereng Merapi terus menulis ulang sejarah mereka.

Memori kolektif di lereng Merapi bukanlah ingatan yang statis tentang kekalahan manusia melawan alam, melainkan sebuah arsip dinamis tentang kebangkitan. Sebagai sejarawan kritis, membaca memori kolektif ini menuntut kita untuk melepaskan kacamata yang murni keyakinan dan mulai mendengarkan bagaimana masyarakat memaknai luka mereka, mengungkapkan ketakutan mereka melalui mitos, dan pada akhirnya, bangkit menyemai kembali kehidupan di atas tanah yang pernah menghanguskan mereka. Bencana, dalam kerangka sejarah lokal Merapi, adalah sebuah dialektika abadi antara kematian dan kesuburan, antara memori yang menakutkan dan harapan yang terus dirawat.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Sastra Prodi Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Sumber: SuaraBaru.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with