Ketegangan Timur Tengah Dorong Harga Minyak dan Batubara
Konflik Timur Tengah mendorong harga Brent ke US$ 111,7 per barel dan batubara ke US$ 150,5 per ton, sementara gas alam melemah.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global dan menopang harga minyak mentah serta batubara menjelang akhir 2026. Dilansir dari Investasi, pada Kamis (22/10/2026), ancaman konflik militer antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan harga komoditas energi, sedangkan gas alam bergerak berlawanan arah.
Data Trading Economics pada Kamis (22/10/2026) pukul 17.05 WIB menunjukkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$ 99,7 per barel, meningkat 8% dalam sebulan. Minyak Brent naik 8,88% menjadi US$ 111,7 per barel, sementara batubara menguat 3,5% menjadi US$ 150,5 per ton.
Sebaliknya, harga gas alam turun 8,6% menjadi US$ 2,7 per MMBtu. Perbedaan pergerakan tersebut mencerminkan pengaruh risiko geopolitik terhadap minyak dan batubara, serta kondisi pasokan yang berbeda di pasar gas alam.
Wahyu Laksono, analis komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, menilai pengerahan tambahan kekuatan militer AS ke Timur Tengah, ancaman serangan terhadap fasilitas energi, serta meningkatnya ketegangan Iran dan Israel memperbesar premi risiko di pasar energi.
"Secara umum, tren kenaikan harga energi fosil cair dan padat masih berpeluang besar berlanjut akibat dominasi premi risiko perang, sementara gas alam menghadapi dinamika pasokan yang berbeda," ujar Wahyu kepada Kontan pada Kamis (22/10/2026).
Wahyu memperkirakan harga minyak Brent bergerak dalam kisaran US$ 90 hingga US$ 120 per barel sampai akhir 2026. Sementara itu, WTI diproyeksikan berada di rentang US$ 85 hingga US$ 115 per barel.
Risiko kenaikan semakin besar jika ketegangan berkembang menjadi bentrokan militer langsung yang mengganggu produksi dan distribusi energi. Serangan terhadap fasilitas minyak Shaybah milik Saudi Aramco turut meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan infrastruktur energi di Timur Tengah.
Menurut Wahyu, sentimen geopolitik lebih dominan memengaruhi harga energi dalam jangka pendek dibandingkan permintaan global. Negara-negara pengimpor, terutama di Asia, juga berupaya mengamankan kebutuhan energi untuk mengantisipasi potensi kelangkaan pasokan.
Namun, harga minyak yang terlalu tinggi dapat menekan konsumsi bahan bakar industri, khususnya di China dan negara berkembang. Wahyu menilai risiko penurunan permintaan tersebut belum mengalahkan kekhawatiran mengenai kekurangan pasokan fisik dalam waktu dekat.
"Namun, dalam jangka pendek, kepanikan terhadap defisit pasokan fisik mengesampingkan kekhawatiran pelemahan permintaan tersebut," ujar Wahyu.
Untuk batubara, Wahyu memperkirakan harga acuan Newcastle berpotensi mencapai kisaran US$ 145 hingga US$ 165 per ton hingga akhir 2026. Permintaan untuk mengamankan pasokan menjelang musim dingin di Asia Timur dan Eropa menjadi salah satu faktor pendukungnya.
Kenaikan harga minyak juga berpotensi meningkatkan permintaan batubara sebagai sumber energi alternatif bagi industri dan pembangkit listrik. Bagi investor saham domestik, prospek emiten pertambangan tetap bergantung pada biaya produksi, volume penjualan, serta realisasi harga jual batubara masing-masing perusahaan.
Di pasar gas alam Amerika Serikat, Wahyu memperkirakan harga bergerak konsolidatif dalam kisaran US$ 2 hingga US$ 4 per MMBtu sampai akhir 2026. Melimpahnya pasokan akibat tingginya produksi gas serpih serta kesiapan penyimpanan gas di Eropa menjelang musim dingin berpotensi membatasi kenaikan harga.
Meski demikian, gangguan ekspor gas alam cair atau LNG dari kawasan Teluk Persia akibat konflik Timur Tengah dapat memicu kenaikan harga. Permintaan pemanas yang meningkat apabila cuaca lebih dingin dari perkiraan juga berpotensi mendukung pasar gas alam.
Wahyu menilai minyak Brent layak dicermati karena sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan gangguan distribusi energi global, sedangkan batubara menjadi salah satu komoditas yang relevan bagi investor saham domestik melalui kinerja perusahaan pertambangan.
Pergerakan harga komoditas energi tetap menghadapi ketidakpastian akibat perkembangan diplomasi, keputusan produksi negara-negara produsen, kondisi permintaan global, dan perubahan nilai tukar yang dapat mengubah arah pasar dalam waktu singkat.
Sumber: Demokratis.co.id. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Festival Berlabuh Deli Serdang Tembus 125 Besar Event Nasional
Berawal dari inisiatif para alumni Duta Wisata sejak 2023, Festival Budaya Berlabuh di Deli Serdang terus berkembang hingga masuk dalam 125 besar Karisma Event...
Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan serangkaian arahan tegas dan peringatan keras kepada AS dan Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah memerintahkan militer untuk memperbarui daftar target AS dan Israel serta bersiap untuk menanggapi ancaman apa pun, tanpa memandang...
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Prabowo Terima 250 Anggota Kadin di Hambalang
Prabowo menerima 250 anggota Kadin dan 400 peserta P3MDI di Hambalang. Pertemuan membahas investasi domestik dan pengembangan industri masa depan.