Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Perang

Strategi Industri Pertahanan Menjawab Lanskap Perang Masa Depan

Industri pertahanan nasional, seperti Len, Pindad, dan PTDI, mengembangkan alutsista modern untuk memperkuat pertahanan sekaligus mendorong kemandirian industri.

Sumber foto: Kompas.id

Mobil kabin ganda loreng dengan kamuflase abu-hitam terparkir kokoh di area fasilitas PT Len Industri, Bandung, Selasa (20/10/2026). Di bagian atapnya, bertengger perangkat modul radar dan antena pemancar, diapit oleh wahana udara nirawak yang didesain dengan corak kuning-hitam.

Purwarupa atau prototipe itu diperkenalkan sebagai Kyai Gentayu, sebuah kendaraan taktis berteknologi Integrated C4ISR & Counter-UAV System atau sistem terintegrasi untuk komando, kendali, komunikasi, komputer, intelijen, pengawasan, pengintaian, dan penangkal drone. Kendaraan tersebut dilengkapi dengan Merapi V1 untuk tactical C-UAV jammer dan Tawon V1 yang berfungsi sebagai loitering munition.

Penampakan purwarupa Mobile C4ISR-CUAS di Pusat Pengembangan Produk UAV PT Len Industri ini bukan sekadar pameran teknologi. Ia adalah representasi visual dari bagaimana ekosistem industri pertahanan nasional, Defend ID, tengah bergegas merespons perubahan drastis dalam lanskap peperangan global.

Direktur Bisnis dan Kerjasama PT Len Industri Dwi Sulistiani, berpandangan, saat ini, negara membutuhkan penguasaan ruang udara dan komunikasi strategis, khususnya di wilayah terluar.

Karena itu, pihaknya tengah mengebut penyelesaian pembangunan 13 radar militer. Dari jumlah tersebut, dua lokasi di kawasan timur Indonesia sudah berstatus siap. Belasan radar sisanya bakal ditargetkan rampung sepenuhnya pada tahun depan.

Meskipun demikian, lanjut Dwi, pembangunan jaringan radar bukan sekadar mendirikan antena fisik.

”Tantangannya apa? Di luar teknologi sebenarnya, karena ini membuka di wilayah-wilayah baru. Yang dibangun di situ adalah ekosistemnya. Kita harus menyiapkan operasionalnya juga, kesiapan para prajurit untuk tempat tinggalnya, pemantaunya, untuk war room-nya,” jelasnya.

Tantangan Len berikutnya adalah memastikan interoperabilitas komunikasi antar matra. Kondisi ini menuntut integrasi seluruh perangkat, baik yang lama maupun yang baru, dalam satu sistem komando dan kendali terpusat.

Wakil Direktur Utama PT Pindad Heru Puryanto, berpandangan, eskalasi konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah dan Ukraina memutarbalikkan pola pikir dunia soal perang. Perang modern saat ini, sangat mengandalkan pesawat nirawak.

”Kalau kita lihat kondisi di Timur Tengah maupun di Ukraina, itu drone mulai berperan sangat penting. Lebih murah tapi efektif. Nah, memang tantangan untuk kita untuk bisa mengantisipasi itu,” ujarnya di Kompleks PT Pindad, Bandung, Jawa Barat, Selasa.

Untuk itu, PT Pindad turut mengembangkan lini sistem anti-drone. Lapis perlindungan ini mencakup kemampuan soft kill yang berfungsi memblokir atau melakukan jamming terhadap sinyal musuh, hingga sistem hard kill menggunakan munisi dan senjata khusus buatan Pindad.

Kemampuan penangkal pesawat nirawak ini bahkan telah diintegrasikan ke kendaraan mobile jammer yang dibangun di atas sasis kendaraan taktis Maung.

Selain bersiap menghadapi ancaman asimetris, Pindad juga dihadapkan pada tugas mendesak dari dalam negeri yakni memenuhi kebutuhan alutsista untuk rencana pembentukan batalion-batalion teritorial baru. Pemenuhan tersebut dicapai lewat peningkatan kapasitas produksi senapan serbu secara masif.

”Senjata juga kami tingkatkan kapasitas produksinya. Sekarang sudah mencapai sekitar lebih dari 70.000 pucuk per tahun untuk SS3 saja. Kita sekarang sudah hampir tiga kali lipat dari kapasitas yang sebelumnya,” kata Heru.

Untuk menunjang mobilitas operasional batalion baru, Pindad telah menyerahkan lebih dari 2.500 unit kendaraan taktis ringan Maung kepada Kementerian Pertahanan. Sementara untuk menjamin kemandirian pasokan munisi di masa depan, kawasan pabrik munisi dan propelan baru tengah dibangun di Batulicin, Kalimantan Selatan, yang diproyeksikan bakal menyerap banyak tenaga kerja lokal.

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Gita Amperiawan, mengatakan, logistik udara pun tak lepas dari adaptasi taktis industri menghadapi medan geografis ekstrem. Salah satunya adalah melalui produksi pesawat N219.

”Pesawat 219 adalah pesawat 100 persen karya anak bangsa. Tingkat kandungan dalam negerinya ada 44,69 persen,” ungkapnya.

Pesawat berkapasitas 19 penumpang dengan mesin ganda tersebut, lanjut Gita, tidak lagi menyandang lisensi asing (C) dalam namanya. N219 pun dirancang khusus untuk menaklukkan rute-rute perintis yang minim infrastruktur. ”Ini adalah take off yang paling short, di 600 sampai 800 meter. Juga unpaved (tidak beraspal). Memang disiapkan pesawat ini adalah pesawat kecil yang untuk bisa melayani rute-rute perintis,” tambahnya.

Kementerian Pertahanan tercatat telah memesan enam unit pesawat N219 secara khusus untuk TNI Angkatan Darat. Enam unit pertama ditargetkan menjalani penerbangan perdana pada Desember tahun ini sebelum diserahterimakan pada Februari 2027. Ke depannya, pintu samping pesawat ini akan dimodifikasi agar sesuai dengan spesifikasi militer untuk keperluan penerjunan pasukan.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan Brigadir Jenderal Rico Sirait menuturkan, rangkaian inovasi teknologi alutsista ini pada akhirnya mengerucut pada satu filosofi utama, pemenuhan pertahanan harus mampu memutar roda ekonomi nasional secara struktural. Hal tersebut merupakan visi seluruh industri pertahanan yang tergabung dalam Defend ID.

”Segenap industri pertahanan yang ada, itu bukan hanya untuk men-support domain pertahanan saja. Tetapi juga untuk men-support ekonomi yang berjalan,” kata Rico.

Sumber: Kompas.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with