Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Perang

Korsel Terus Tarik Diplomat dari Ukraina

Penolakan Ukraina meminta maaf membuat Korea Selatan terus mengurangi tingkat hubungan Seoul-Kyiv. Seoul telah banyak membantu Kyiv selama ini.

Sumber foto: Kompas.id

SEOUL, SELASA — Relasi Korea Selatan-Ukraina terus memburuk sejak September 2026. Keengganan Ukraina meminta maaf ke Korea Selatan soal pengungkapan informasi tawanan perang Korea Utara jadi pemicunya. Selama ini, Seoul salah satu pemasok penting aneka bantuan ke Kyiv.

Pada Sabtu (17/10/2026), Duta Besar Park Ki-chang pulang dari Ukraina ke Korea Selatan. Pada 8 Oktober 2026, Seoul mengumumkan penarikan Park.

Korsel amat jarang memanggil pulang dubes sebagai cara protes. Seoul terakhir kali melakukan itu pada 2008 di tengah ketegangan diplomatik Jepang-Korsel.

”Bahkan, setelah penarikan duta besar kami untuk Ukraina, belum ada langkah konstruktif dari pihak Ukraina. Selain itu, dengan masih adanya ancaman serangan udara di seluruh wilayah Ukraina yang menyulitkan upaya untuk menjamin keselamatan, pemerintah telah memutuskan untuk menarik sebagian anggota staf kedutaan,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Korsel, Park Doo-soon, Selasa (20/10/2026), di Seoul.

Ia tidak menjelaskan jumlah anggota staf yang ditarik dan tetap tinggal. Ia hanya menyebutkan, Kedubes kini dipimpin Kuasa Usaha.

”Kami masih menjaga jalur komunikasi. Tujuan kami adalah mencari jalan keluar yang baik melalui konsultasi dengan pihak Ukraina. Kami menyampaikan posisi tegas terkait tuntutan kami melalui berbagai saluran. Sekarang berpulang pada respons Ukraina menyikapi secara pantas terhadap masalah tersebut,” ujar Park.

Semua itu buntut pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa. Dalam pidato pada 23 September 2026, di New York, Amerika Serikat, itu Zelenskyy mengungkapkan bahwa Ukraina mengirim dua tentara Korut ke Korsel. Pada Januari 2026, Ukraina untuk pertama kalinya menangkap tentara Korut yang berperang untuk Rusia.

Pernyataan disampaikan beberapa jam selepas pertemuan Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha dan Menlu Korsel Cho Hyun di New York. Pertemuan itu membahas peningkatan kerja sama Kyiv-Seoul.

Pidato Zelenskyy membuat Korsel marah dan meminta Ukraina meminta maaf secara resmi. Pidato itu dinilai melanggar perjanjian untuk merahasiakan pengiriman kedua tentara itu. Kyiv menyangkal ada kesepakatan seperti itu.

Pengungkapan oleh Zelenskyy meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea. Pengungkapan itu juga akan membahayakan nyawa keluarga dua tawanan tersebut.

Cho mengungkapkan, Sybiha pernah mengirimkan surat ke Seoul. Walakin, surat itu tak sesuai harapan Seoul. Apalagi, Sybiha menyebut isu tawanan itu sebagai kesalahan diplomatik semata.

Kepada media Ukraina, Ukrainska Pravda, Sangmin Shim, menjelaskan pentingnya isu itu bagi Korsel. Ia adalah peneliti Asan Institute for Policy Studies di Korsel.

Pemerintahan Presiden Lee Jae Myung, menurut Sangmin, memandang amat penting relasi Korsel dengan Korut dan Rusia. Seperti kubu progresif sebelum dia, Lee sangat mengupayakan rekonsiliasi Korut-Korsel. Padahal, Korut berkeras sudah tak ada harapan rekonsiliasi.

Dengan kondisi itu, Lee dan kubu progresif amat sensitif pada segala hal yang bisa merusak setiap upaya peningkatan relasi dengan Korut-Rusia. Pernyataan Zelenskyy bagian dari itu.

Di sisi lain, Ukraina di bawah Zelenskyy berusaha terus mencari dukungan menghadapi serangan Rusia. Kyiv memandang, pengungkapan soal dua tawanan Korut itu bagian dari upaya transparansi kepada komunitas internasional. Tujuannya menunjukkan kerja sama Korut-Rusia menyerang Ukraina.

Menlu Ukraina Heorhii Tykhyi mengatakan kepada media setempat tentang penarikan Dubes Korsel bahwa pihaknya terbuka untuk terus membangun dialog konstruktif dan sikap kepala dingin dengan Korsel untuk mengatasi ketegangan.

Keberadaan dua prajurit Korea Utara yang dikirim ke Seoul adalah bagian atas lebih dari 10.000 prajurit Korut yang dikirim berperang di pihak Rusia dalam Perang Ukraina di front Kursk. Mereka ditangkap awal tahun 2025 dengan menggunakan identitas palsu sebagai warga Rusia dari wilayah Siberia yang memang berperawakan Asia.

Dalam wawancara media, dua tawanan perang itu mengaku takut dianiaya jika kembali ke Korea Utara. Pemerintah Korea Selatan sesuai konstitusinya mengklaim kekuasaan atas seluruh Semenanjung Korea dan selalu membantu pelarian dari Korea Utara. Para pejabat Korsel mengatakan perjanjian kerahasiaan dengan Ukraina atas pemindahan dua tawanan perang itu bertujuan melindungi mereka dan keluarganya di Korea Utara.

Media pemerintah Korea Utara belum memberikan tanggapan apa pun atas informasi pemindahan tawanan perang Korut dari Ukraina ke Korsel. Korea Utara biasanya murka jika terjadi pelarian warganya ke Korea Selatan. Korut biasa menyebut kejadian tersebut sebagai penculikan oleh pihak Korsel.

Hubungan Korsel-Korut memburuk dalam beberapa tahun terakhir, Pemimpin Korea Utara Kim Jong mengambil sikap keras terhadap Korsel dengan memutus aneka jalur diplomasi dan mempercepat serta memperluas program senjata nuklir di tengah kebuntuan diplomasi dengan Amerika Serikat.

”Kebijakan pemerintah Korsel adalah memulihkan dialog dengan Korut dan mengurangi ketegangan. Maka pengiriman dua tawanan perang Korut harus dilakukan secara rahasia,” kata analis Institut Riset Strategi Nasional Korsel Moon Seong Mook.

Intelijen Korsel memperkirakan ada kemungkinan 50 persen Presiden AS Donald Trump akan bertemu Kim Jong Un dalam KTT APEC di Shenzhen, China pada November 2026.

Dalam Perang Rusia-Ukraina, Korea Selatan tidak memasok senjata ke para pihak. Namun. secara tidak langsung, senjata buatan Korsel digunakan Ukraina melalui pihak lain seperti Polandia dan Ukraina.

Dalam laporan The New York Times, 5 Maret 2023 diberitakan ekspor senjata Korsel tahun 2022 mencapai 17 miliar dolar AS. Ekspor terbesar berupa meriam, peluncur roket, jet tempur, dan amunisi artileri ke Polandia.

Polandia adalah sekutu Ukraina yang juga memasok senjata ke Ukraina. Polandia membangun howitzer Krabb dengan meriam 155 milimeter dengan basis howitzer K9 Korea Selatan.

Sementara ASt dalam laporan JoongAng Daily, 24 Februari 2026 disebut mengimpor peluru howitzer 155 milimiter dari Korea Selatan. AS hanya mampu membuat 90.000 butir peluru 155 milimeter per tahun. Sementara Korsel mampu memproduksi hingga 200.000 butir peluru 155 milimeter.

Disebutkan, sejak serangan Rusia ke Ukraina, Februari 2022, Korsel mendukung Ukraina secara politis dan keuangan. Diketahui Korsel mengekspor ratusan ribu peluru meriam 155 milimeter ke AS yang diyakini sebagian besar diteruskan untuk digunakan Ukraina dalam perang melawan Rusia. (AP/AFP)

Sumber: Kompas.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with