Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Timur Tengah

Harga Minyak Dunia Turun di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Harga minyak WTI turun 1,8 persen menjadi 101,79 dollar AS per barel, sedangkan Brent melemah 0,7 persen di tengah ketegangan Timur Tengah.

Sumber foto: SuaraGarut.ID

Harga minyak dunia melemah pada Selasa (20/10/2026) waktu setempat atau Rabu (21/10/2026) pagi setelah muncul harapan kemajuan diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Menurut laporan CNBC yang dilansir dari Money, penurunan harga terjadi ketika serangan terhadap kapal tanker dan infrastruktur minyak Arab Saudi masih mengancam pasokan energi global.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun 1,8 persen dan ditutup pada 101,79 dollar AS per barel. Menurut laporan tersebut, harga WTI sempat menyentuh 110,48 dollar AS per barel selama sesi perdagangan sebelum berbalik melemah.

Kontrak WTI November berakhir pada Selasa. Sementara itu, kontrak pengiriman Desember turun 26 sen menjadi 98,28 dollar AS per barel. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember, yang menjadi acuan global, melemah 0,7 persen menjadi 108,79 dollar AS per barel setelah sempat mencapai 111,99 dollar AS per barel.

Ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi prospek pasokan. Perusahaan pelacak kapal Kpler mencatat sedikitnya 18 kapal menjadi sasaran serangan selama dua pekan terakhir, terutama di jalur perdagangan yang melintasi Selat Hormuz.

Pada Selasa, Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan dua kapal tanker minyak yang disebut tidak mematuhi aturan terbakar setelah menabrak ranjau yang dipasang oleh unit angkatan laut Iran. Informasi tersebut disampaikan kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan pemerintah Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyampaikan bahwa Teheran akan membalas setiap serangan Amerika Serikat dengan kekuatan setara atau lebih besar. Tasnim melaporkan pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers mingguan pada Selasa.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan pasukan Amerika tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela pada 3 November 2026. Pemungutan suara tersebut akan menentukan sejumlah anggota Kongres AS di luar pemilihan presiden.

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai penguatan kontrak WTI untuk pengiriman terdekat menjelang berakhirnya masa kontrak mencerminkan ketatnya pasar minyak mentah global. Kondisi tersebut berkaitan dengan penurunan ekspor minyak dari Timur Tengah ketika serangan terhadap kapal tanker dan infrastruktur minyak Arab Saudi oleh kelompok Houthi meningkat.

Varga juga menyoroti keputusan Amerika Serikat memberikan pengecualian sanksi terkait Rusia kepada armada kapal bayangan Rusia sebelum sanksi tersebut berlaku. Armada ini digunakan untuk mengangkut minyak Rusia di luar jalur perdagangan konvensional, termasuk untuk menghindari pembatasan internasional.

Menurut Varga, pengecualian tersebut berpotensi menurunkan tarif angkutan laut. Sebelumnya, biaya pengiriman yang tinggi menjadi salah satu hambatan bagi peningkatan permintaan minyak mentah asal Amerika Serikat.

Varga menjelaskan bahwa perubahan kebijakan tersebut dapat memengaruhi persaingan minyak mentah dari Amerika Serikat dan Timur Tengah.

"Dengan hambatan ini untuk sementara dihilangkan, minyak mentah AS kembali menjadi pilihan untuk menggantikan minyak mentah dari Timur Tengah," ujar Tamas Varga, analis PVM Oil Associates, seperti dilansir CNBC.

Selain perkembangan ekspor dan biaya pengiriman, Varga memperkirakan persediaan minyak komersial Amerika Serikat mengalami penurunan pada pekan sebelumnya. Perubahan persediaan tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pelaku pasar untuk menilai keseimbangan pasokan dan permintaan minyak.

Sumber: SuaraGarut.ID. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with