Eskalasi Perang Yaman Mengancam Warga dan Jalur Energi Global
Serangan Houthi dan balasan pasukan pemerintah memperluas konflik Yaman, menewaskan warga sipil, memicu pengungsian, dan mengancam jalur energi global.

Eskalasi perang di Yaman kembali mengancam keamanan kawasan Timur Tengah setelah kelompok Houthi menyerang sasaran di Arab Saudi dan pasukan pemerintah Yaman meningkatkan operasi militer pada Oktober 2026. Pertempuran yang melibatkan kepentingan regional ini menimbulkan korban sipil, memaksa ratusan ribu orang meninggalkan rumah, serta meningkatkan risiko terhadap jalur pelayaran dan pasokan energi internasional.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), pada Senin (12/10), mencatat 216.000 orang telah mengungsi di Yaman sejak Agustus, termasuk lebih dari 172.000 orang dari Provinsi Taiz. PBB dan mitra kemanusiaan telah memberikan bantuan darurat kepada sekitar 143.000 orang berupa makanan, perlengkapan kebersihan, dan bantuan tunai.
Menurut laporan ANTARA pada 13 Oktober, pasukan pemerintah Yaman melancarkan sembilan serangan udara terhadap personel dan peralatan militer Houthi di Provinsi Taiz. Lima serangan menyasar wilayah Al-Dhabab, sedangkan empat lainnya menghantam Distrik Al-Misrakh. Bentrokan juga berlanjut di garis depan Al-Shaqab, sebelah selatan Taiz.
Kantor Kementerian Hak Asasi Manusia Yaman di Taiz melaporkan enam warga sipil, termasuk seorang gadis, tewas akibat penembakan artileri Houthi pada Minggu (11/10). Dalam kurun waktu 24 jam, 17 warga sipil, termasuk lima perempuan dan enam anak-anak, terluka, sementara tujuh rumah mengalami kerusakan.
Taiz Human Rights Center juga menuding Houthi menembakkan artileri ke kawasan sekitar Rumah Sakit Al-Safwa di pusat kota Taiz. Sebuah peluru dilaporkan jatuh di dekat fasilitas kesehatan tersebut, merusak kamar pasien dan menimbulkan kepanikan di kalangan pasien serta tenaga medis.
Otoritas Taiz sebelumnya memperingatkan bahwa pengepungan terhadap provinsi itu mengancam keselamatan dan mata pencaharian lebih dari 6 juta penduduk. Pemerintah Yaman meluncurkan Operasi Fajar Yaman pada pekan sebelumnya untuk memulihkan lembaga negara dan mengakhiri kendali Houthi atas Sanaa.
Di wilayah selatan, komandan pasukan pro-pemerintah Tawfiq Al Haboun menggambarkan kemampuan persenjataan Houthi dalam laporan yang diterbitkan detikcom. Ia menyebut kelompok tersebut menggunakan penembak jitu, artileri, dan peluncur rudal balistik. Pasukan pro-pemerintah yang didukung Arab Saudi masih berupaya merebut kembali wilayah strategis yang dikuasai lawan.
Al Haboun juga memperlihatkan luka yang menurut keterangannya disebabkan oleh pesawat nirawak Houthi bermuatan bahan peledak C4. Ia berasal dari Pasukan Selatan, bagian dari aliansi kelompok-kelompok yang bertempur mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Menurut laporan yang sama, sekitar 500 milisi Houthi masih berada di dataran tinggi yang menghadap Bab el-Mandab, jalur laut strategis penghubung Laut Merah dan Teluk Aden. Al Haboun mengklaim pasukan pemerintah telah merebut kembali sekitar 85 persen wilayah yang diperebutkan, tetapi Houthi membantah kehilangan kendali atas sejumlah kawasan lain.
Pertempuran tersebut juga berdampak langsung terhadap masyarakat yang kehilangan tempat tinggal dan akses terhadap kebutuhan dasar. Seorang pengungsi bernama Aisha, yang meninggalkan rumahnya di kawasan pegunungan Kahboob, menggambarkan kondisi keluarganya setelah mengungsi selama sebulan.
"Kami sudah berada di sini selama 30 hari," kata Aisha dalam laporan detikcom.
Aisha mengatakan keluarganya meninggalkan rumah tanpa sempat membawa perlengkapan yang memadai. Ia menggambarkan keterbatasan pangan, air, uang, dan tempat berlindung yang dihadapi para pengungsi.
"Saya tidak punya hewan ternak, tidak punya uang, tidak punya air, tidak punya makanan, bahkan tidak punya selimut… kami harus lari, hanya dengan pakaian yang kami kenakan," ujar Aisha.
Tekanan kemanusiaan tersebut berlangsung ketika serangan lintas batas turut meningkatkan risiko terhadap keamanan Arab Saudi. CNN Indonesia melaporkan bahwa negara itu menghabiskan US$83 miliar untuk pertahanan pada tahun sebelumnya, menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), dan memiliki sistem persenjataan canggih, termasuk Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).
Namun, wilayah Saudi yang luas dan ancaman dari beberapa arah menyulitkan perlindungan seluruh fasilitas strategis. Serangan dapat menyasar bandara, kilang minyak, jaringan pipa, dan pangkalan militer. Houthi juga menggabungkan penggunaan rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak untuk meningkatkan tekanan terhadap sistem pertahanan udara.
Dukungan teknologi dan persenjataan Iran menjadi salah satu faktor yang disoroti dalam laporan CNN Indonesia. Para ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya mengidentifikasi peralatan militer dan pesawat nirawak asal Iran yang masuk ke Yaman meskipun terdapat embargo senjata internasional. Rudal Houthi generasi baru, termasuk Hatem-2 dan Palestine-2, disebut memiliki kemiripan desain dengan persenjataan Iran.
Ketegangan juga memengaruhi jalur pelayaran Bab el-Mandab yang penting bagi perdagangan internasional. Dalam laporan detikcom, kawasan tersebut digambarkan sebagai koridor maritim strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Perebutan kendali atas wilayah di sekitarnya menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dan stabilitas pasar energi.
Di tengah eskalasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pada Senin (12/10) bahwa Teheran siap membantu memfasilitasi pembicaraan antara Arab Saudi dan pihak Yaman yang merujuk pada Houthi. Anggota biro politik Houthi Mohammed al-Bukhaiti mengklaim Riyadh telah menerima tawaran mediasi itu, tetapi kelompoknya menolak usulan gencatan senjata selama dua minggu maupun satu bulan.
Al-Bukhaiti memperingatkan bahwa konflik dapat semakin sulit dihentikan apabila pertempuran berlanjut. Ia menyampaikan pernyataan tersebut ketika serangan dan operasi militer masih berlangsung di sejumlah wilayah Yaman.
"Setiap hari yang berlalu dalam pertempuran ini akan memperluas cakupannya dan memperdalam kerugiannya, dan penyelesaian yang mungkin dilakukan hari ini mungkin akan menjadi sulit atau bahkan mustahil di masa mendatang," ujar Mohammed al-Bukhaiti.
Konflik Yaman bermula dari perebutan kekuasaan setelah Houthi menguasai Sanaa pada 2014. Arab Saudi kemudian memimpin intervensi militer pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional. Gencatan senjata yang dimediasi PBB pada April 2022 meredakan pertempuran, tetapi tidak menghasilkan penyelesaian politik permanen.
Dalam laporan opini yang diterbitkan SINDOnews pada 15 Oktober, Kholid Al Walid, Guru Besar Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan pengamat geopolitik Timur Tengah, menyoroti dampak konflik terhadap Indonesia, termasuk keselamatan pelaut, perdagangan, dan kepentingan diplomatik. Laporan itu menyebut tiga awak kapal asal Indonesia menjadi korban serangan terhadap kapal kargo Tihamah di Selat Bab el-Mandeb pada 11 Agustus, dengan satu orang hilang dan dua lainnya terluka.
Krisis kemanusiaan Yaman masih berada pada tingkat serius. Menurut data PBB yang dikutip SINDOnews, sebanyak 22,3 juta orang di negara tersebut membutuhkan bantuan pada 2026, termasuk 5,2 juta pengungsi internal. Sebanyak 18,3 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut, lebih dari 2,2 juta balita mengalami gizi buruk akut, dan hampir 40 persen fasilitas kesehatan tidak berfungsi penuh.
Sumber: SuaraGarut.ID. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Festival Berlabuh Deli Serdang Tembus 125 Besar Event Nasional
Berawal dari inisiatif para alumni Duta Wisata sejak 2023, Festival Budaya Berlabuh di Deli Serdang terus berkembang hingga masuk dalam 125 besar Karisma Event...
Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan serangkaian arahan tegas dan peringatan keras kepada AS dan Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah memerintahkan militer untuk memperbarui daftar target AS dan Israel serta bersiap untuk menanggapi ancaman apa pun, tanpa memandang...
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Prabowo Terima 250 Anggota Kadin di Hambalang
Prabowo menerima 250 anggota Kadin dan 400 peserta P3MDI di Hambalang. Pertemuan membahas investasi domestik dan pengembangan industri masa depan.