Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Timur Tengah

Cina Kecam Serangan Houthi di Tengah Konflik Yaman

Cina mengecam serangan Houthi yang menimbulkan korban di Arab Saudi pada Oktober 2026 sambil menjaga hubungan dengan Teheran dan Riyadh.

Sumber foto: Cirebon Times

Eskalasi perang antara Houthi dan Arab Saudi pada Oktober 2026 menempatkan Cina dalam posisi diplomatik yang rumit. Beijing berupaya mempertahankan hubungan strategis dengan Iran, melindungi kemitraan ekonomi dengan Arab Saudi, serta menjaga kelancaran jalur pelayaran Laut Merah di tengah meningkatnya ancaman terhadap keamanan regional. Menurut laporan SindoNews yang diterbitkan pada 18 Oktober 2026, konflik tersebut meluas melampaui persoalan domestik Yaman setelah serangan menyasar infrastruktur Saudi dan mengganggu penerbangan di Riyadh.

Situasi ini juga melibatkan kepentingan Iran, Amerika Serikat, dan kekuatan besar lainnya di kawasan perdagangan internasional. Pada 15 Oktober 2026, serangan Houthi menargetkan kompleks istana kepresidenan di Aden dan menewaskan dua personel keamanan. Pada hari yang sama, koalisi pimpinan Saudi memaparkan serangkaian serangan terhadap infrastruktur Saudi, sebagaimana diberitakan dalam laporan tersebut.

Rangkaian serangan itu berlangsung ketika Amerika Serikat dinilai enggan menanggung biaya perang baru setelah konflik berkepanjangan dengan Iran. Perkembangan tersebut menambah perhatian terhadap kemungkinan peran Cina dalam upaya meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Mao Ning, menyampaikan sikap Beijing pada 12 Oktober 2026 dengan mengecam serangan Houthi yang menimbulkan korban besar di Arab Saudi. Pernyataan tersebut juga menegaskan penolakan Cina terhadap serangan yang menyasar warga sipil dan infrastruktur sipil. Sikap Cina itu menjadi sorotan karena Beijing sebelumnya cenderung menghindari penyebutan secara eksplisit pihak yang bertanggung jawab atas serangan. Pernyataan tersebut menunjukkan posisi diplomatik Cina dalam menghadapi eskalasi konflik, sementara kepentingan ekonominya di kawasan tetap menjadi pertimbangan.

Ridwan Al-Makassary, dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) sekaligus Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII, mengangkat posisi Cina sebagai persoalan penting bagi masa depan geopolitik Timur Tengah. Perhatian utamanya mencakup kemungkinan keterlibatan Beijing sebagai penjamin perdamaian atau sebagai penengah yang menjaga kepentingan ekonomi tanpa mengambil risiko keamanan secara langsung. Dalam perkembangan konflik tersebut, Cina menghadapi kepentingan yang saling berkaitan. Hubungannya dengan Iran perlu dipertahankan, kemitraan ekonomi dengan Arab Saudi tetap penting, dan jalur pelayaran Laut Merah perlu terus terbuka bagi perdagangan internasional.

Sumber: Cirebon Times. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with