Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Bencana Alam

UAV Swarm Padukan Deteksi AI dan Sensor CO2 untuk Pencarian Korban Bencana Halaman 1

Bisakah drone membantu menyelamatkan nyawa di tengah bencana? Tim peneliti Universitas Negeri Malang menghadirkan inovasi UAV dengan AI dan sensor co2

Sumber foto: Kompasiana.com

MALANG — Di tengah reruntuhan bangunan, kepulan debu, dan luasnya wilayah terdampak bencana, menemukan korban dalam waktu singkat bukanlah perkara mudah. Padahal, dalam operasi penyelamatan, setiap menit dapat menjadi penentu antara hidup dan mati.

Berangkat dari tantangan tersebut, tim peneliti Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan inovasi teknologi pencarian korban bencana berbasis UAV Swarm–Mothership yang mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dan sensor karbon dioksida (CO). Sistem ini dirancang untuk membantu tim Search and Rescue (SAR) menemukan indikasi keberadaan korban secara lebih cepat, luas, dan efisien.

Penelitian yang dipimpin oleh Chintia Dwi Wangsa Kuswardani, S.T., M.T., ini mengusung judul "Perancangan Sistem Pencarian Korban Bencana Alam Berbasis UAV Swarm Mothership Terintegrasi CNN dan NDIR dalam Upaya Peningkatan Kapabilitas Pencarian Korban." Inovasi tersebut menggabungkan kemampuan drone, pengolahan citra berbasis AI, dan pemantauan gas dalam satu sistem yang saling melengkapi.

Satu Induk, Banyak Drone, Area Pencarian Lebih Luas

Bayangkan sebuah drone utama yang membawa dan mengoordinasikan beberapa drone kecil untuk menyisir wilayah terdampak bencana. Ketika satu drone memeriksa suatu area, drone lainnya dapat diarahkan untuk menjangkau lokasi berbeda. Informasi yang diperoleh kemudian dapat dimanfaatkan untuk membantu menentukan area yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Konsep inilah yang menjadi dasar pengembangan UAV Swarm–Mothership oleh tim peneliti UM.

Berbeda dari pendekatan yang hanya mengandalkan satu drone, sistem ini dirancang untuk memanfaatkan kerja sama beberapa wahana udara. Drone utama atau mothership berperan sebagai pusat koordinasi, sedangkan drone-drone kecil mendukung proses pencarian di area yang lebih luas.

Pendekatan tersebut berpotensi membantu mengatasi salah satu persoalan utama dalam operasi SAR, yaitu keterbatasan waktu dan jangkauan pencarian, terutama ketika akses darat terhambat oleh reruntuhan, medan yang sulit, atau kondisi lingkungan yang berbahaya.

"Pada operasi pencarian korban, waktu adalah faktor yang sangat menentukan. Semakin cepat korban ditemukan, semakin besar peluang mereka untuk diselamatkan. Karena itu, kami mengembangkan sistem yang mampu mempercepat proses pencarian sekaligus meningkatkan akurasi deteksi," jelas Chintia Dwi Wangsa Kuswardani.

Ketika Kamera Tidak Cukup, Sensor Gas Ikut Membantu

Salah satu tantangan terbesar dalam pencarian korban menggunakan drone adalah kondisi lingkungan yang tidak selalu ideal. Asap, debu, pencahayaan minim, dan objek yang tertutup reruntuhan dapat menyulitkan kamera dalam mengenali keberadaan manusia.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti menggabungkan dua pendekatan deteksi yang memiliki fungsi berbeda: pengenalan visual berbasis AI dan pemantauan konsentrasi CO menggunakan sensor Non-Dispersive Infrared (NDIR).

Teknologi pertama memanfaatkan Convolutional Neural Network (CNN), yaitu metode kecerdasan buatan yang digunakan untuk mengenali pola visual pada citra. Melalui kamera drone, model ini dilatih untuk mengidentifikasi objek manusia dari citra udara sehingga dapat membantu menunjukkan lokasi yang berpotensi menjadi titik keberadaan korban.

Namun, bagaimana jika tubuh korban tidak terlihat jelas oleh kamera?

Sumber: Kompasiana.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with