Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Bencana Alam

Antara Perusakan Alam dan Manusia yang Serakah

alam tidak butuh diselamatkan oleh manusia; kitalah yang butuh alam agar bisa terus bernapas.

Sumber foto: Kompasiana.com

Tiap tahun, saat musim kemarau datang, layar berita kita selalu dihiasi oleh pemandangan yang sama: langit kuning pekat, orang-orang memakai masker, dan jarak pandang yang cuma beberapa meter. Kita menyebutnya bencana kabut asap atau Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan). Tapi, mari kita berhenti bersikap naif dan mulai menggunakan akal sehat. Memanggil Karhutla sebagai "bencana alam" adalah sebuah kebohongan publik. Ini bukan murni kemarahan alam; ini adalah kejahatan ekologis yang didesain secara sadar.

Kebakaran hutan dalam skala masif di negeri ini jarang sekali terjadi karena gesekan ranting kering yang terbakar secara alami. Sebagian besar api itu sengaja disulut. Kenapa? Karena membakar adalah metode paling murah, paling cepat, dan paling efisien untuk membuka lahan perkebunan baru. Ini adalah kalkulasi bisnis yang sangat dingin. Di balik setiap hektar hutan yang hangus, ada grafik keuntungan perusahaan yang sedang meroket.

Ini adalah bentuk keserakahan manusia di level yang paling menjijikkan. Para pelaku pembakaran lahan, terutama korporasi besar, menghitung penghematan biaya operasional mereka, sementara biaya pemulihannya dilemparkan ke pundak publik. Para bos duduk di ruangan ber-AC dengan filter udara canggih, sementara anak-anak, balita, dan lansia di sekitar lokasi kebakaran harus menghirup udara beracun yang merusak paru-paru mereka. Keuntungan diprivatisasi, tapi penderitaan disosialisasikan.

Coba kita lihat cara masyarakat merespons. Sering kali, kepedulian kita sangat dangkal. Kita meramaikan tagar #PrayForSumatera atau #PrayForKalimantan, membagikan masker gratis di jalan, lalu merasa sudah menjadi pahlawan kemanusiaan. Padahal, memberikan masker tanpa pernah menuntut pertanggungjawaban para pembakar hutan sama saja dengan mengobati gejala tanpa mencabut akar penyakitnya. Itu bukan solusi, itu cuma obat bius sementara.

Dampak dari perusakan alam ini tidak main-main. Ekosistem yang butuh waktu ribuan tahun untuk terbentuk, hangus dan mati hanya dalam hitungan hari. Jutaan flora dan fauna kehilangan habitatnya, bahkan mati terpanggang. Kita sedang mencuri masa depan bumi hanya demi menurunkan biaya operasional perusahaan kelapa sawit atau kertas. Secara logis, ini adalah investasi paling bodoh yang pernah dilakukan manusia terhadap tempat tinggalnya sendiri.

Yang paling bikin muak adalah sistem hukum yang sering kali tumpul ke atas. Ketika penegakan hukum dilakukan, yang sering ditangkap dan dijadikan kambing hitam adalah petani-petani kecil atau buruh suruhan yang dibayar murah untuk memegang obor. Sementara itu, aktor intelektualnya—para pemilik modal yang memberi perintah—sering kali bisa melenggang bebas dengan kekuatan uang dan lobi politik. Ini adalah kegagalan sistemik yang dipelihara.

Alasan klasik yang sering dipakai untuk membela industri ekstraktif ini adalah "pembangunan ekonomi" dan "pembukaan lapangan kerja". Tapi, mari kita hitung-hitungan secara rasional. Berapa triliun kerugian negara akibat penerbangan yang dibatalkan, aktivitas ekonomi warga yang lumpuh, serta biaya perawatan medis bagi ratusan ribu orang yang terkena ISPA? Klaim keuntungan ekonomi dari pembukaan lahan itu sebenarnya hanyalah ilusi jika dibandingkan dengan kerugian massal yang harus ditanggung masyarakat.

Di sinilah kita harus mengevaluasi diri. Kita tidak bisa sekadar marah kepada pemerintah atau korporasi, sementara kita sendiri sering kali menjadi konsumen yang masa bodoh. Jika kita hanya peduli pada barang-barang konsumsi yang murah tanpa pernah mau tahu dari mana bahan bakunya berasal—apakah dari hasil membakar hutan atau bukan—maka secara tidak langsung, kitalah yang mendanai keserakahan tersebut.

Jadi, gimana seharusnya kita bertindak? Langkah pertama yang paling krusial adalah merombak mindset kita. Kita harus mulai mengubah narasi. Berhenti menyebut Karhutla sebagai "musibah tahunan". Sebut itu dengan nama aslinya: "Terorisme Ekologis" atau "Kejahatan Korporasi". Dengan menggunakan bahasa yang tepat, kita sedang mendesak otak kita dan masyarakat luas untuk berhenti pasrah dan mulai menuntut keadilan.

Kedua, sebagai kelompok terdidik, kita harus menggunakan kemampuan analitis kita untuk melacak rantai pasok (supply chain). Cari tahu perusahaan raksasa mana yang punya rekam jejak buruk dalam urusan lahan, lalu boikot produk mereka. Keserakahan hanya bisa dilawan dengan cara memukul titik terlemah mereka: pendapatan finansial. Kalau pasar menolak membeli, mereka terpaksa berhenti membakar.

Ketiga, kita harus menggunakan tekanan politik. Jangan biarkan isu lingkungan hanya menjadi komoditas kampanye politik yang dilupakan setelah pemilu selesai. Kita harus berisik menuntut transparansi data konsesi lahan. Publik berhak tahu perusahaan apa yang menguasai lahan mana, sehingga ketika ada titik api (hotspot) di lahan tersebut, kita tahu persis hidung siapa yang harus ditunjuk.

Sebagai generasi yang melek digital, aku dan kamu punya senjata yang sangat efektif. Gunakan skill editing video, desain grafis, dan kemampuan menulis untuk membongkar kebohongan greenwashing (kampanye ramah lingkungan palsu) yang sering dibuat oleh perusahaan-perusahaan pembakar hutan. Jangan biarkan tim humas (PR) korporasi menutupi fakta lapangan yang hangus dengan video promosi yang manis.

Kita juga harus berhenti menormalisasi bencana. Jangan pernah terbiasa hidup dengan kabut asap. Sekali kita memaklumi keadaan, para pelaku akan semakin berani mengeksploitasi alam. Kemarahan publik harus terus dirawat dan diarahkan secara strategis. Demonstrasi ke jalan itu baik, tetapi demonstrasi yang disertai dengan data satelit, riset, dan gugatan hukum (class action) jauh lebih mematikan bagi para perusak alam.

Berjuang melawan keserakahan manusia atas alam ini memang tidak akan pernah mudah. Musuh kita punya kapital besar dan jaringan politik yang kuat. Tapi, kalau kita memilih untuk menyerah dan hanya sibuk menimbun masker setiap tahun, kita sebenarnya sama hinanya dengan mereka yang membakar hutan. Kita menjadi pengecut yang membiarkan rumah kita sendiri dirusak.

Sumber: Kompasiana.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with