Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Perang

Perpusnas RI Dorong Syair Perang Siak Diadaptasi Jadi Buku Anak dan Animasi

Perpusnas RI mendorong agar naskah kuno kebanggaan masyarakat Siak itu tidak hanya disimpan sebagai warisan sejarah

Sumber foto: Tribunpekanbaru.com

SIAK – Pengakuan Syair Perang Siak sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) 2026 menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali warisan sastra dan sejarah Melayu agar lebih dekat dengan generasi muda.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) mendorong agar naskah kuno kebanggaan masyarakat Siak itu tidak hanya disimpan sebagai warisan sejarah, tetapi juga diteliti, diterjemahkan, dan dialihwahanakan menjadi buku bacaan anak hingga animasi.

Dorongan tersebut disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas RI, Suharyanto, dalam Seminar Penganugerahan Syair Perang Siak sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) 2026, Senin (19/10/2026).

Seminar yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Siak berkolaborasi dengan Perpusnas RI tersebut digelar secara virtual melalui Zoom dan diikuti hampir 400 peserta dari berbagai kalangan.

Peserta terdiri atas unsur perpustakaan dan kearsipan, akademisi, pemerintah Provinsi Riau, jurnalis, mahasiswa, serta masyarakat umum.

Kegiatan dibuka Bupati Siak Afni Zulkifli dan turut dihadiri Anggota Komisi X DPR RI daerah pemilihan Riau, Karmila Sari.

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber untuk mengupas nilai sejarah, kesusastraan, dan relevansi Syair Perang Siak bagi identitas serta ingatan kolektif masyarakat Melayu.

Dalam sambutannya sebelum pemaparan materi dimulai, Suharyanto mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Siak, khususnya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, atas kolaborasi yang memungkinkan penyelenggaraan seminar tersebut.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkenalkan keberadaan naskah kuno Nusantara kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.

“Penetapan naskah Syair Perang Siak sebagai Ingatan Kolektif Nasional bukanlah akhir, tetapi merupakan awal dari suatu kegiatan,” ujar Suharyanto.

Ia menegaskan, pengakuan nasional terhadap sebuah naskah kuno harus diikuti langkah nyata agar kandungan pengetahuan, nilai sejarah, dan pesan di dalamnya dapat diakses serta dipahami masyarakat.

Suharyanto menyebutkan, sejumlah upaya yang dapat dilakukan. Antara lain penelitian, transliterasi atau pengalihan aksara, penerjemahan, serta alih wahana ke dalam bentuk yang lebih menarik dan mudah dipahami pembaca masa kini.

Salah satu langkah yang dinilainya potensial adalah mengadaptasi Syair Perang Siak menjadi buku bacaan anak-anak hingga animasi.

Dengan pendekatan tersebut, warisan sastra Melayu diharapkan tidak hanya dikenal kalangan peneliti dan pemerhati sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman belajar generasi muda.

“Bagaimana ke depannya Syair Siak terus dapat dibaca oleh masyarakat umum, terutama oleh generasi muda. Apa yang bisa kita lakukan, misalnya melalui penelitian, transliterasi, penerjemahan, dan juga alih wahana dalam bentuk buku bacaan anak-anak atau komik,” katanya.

Sumber: Tribunpekanbaru.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with