Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Iran

Menhan Baru Iran Mehrdad Akhlaqi Peringatkan AS dan Israel

Parlemen Iran setujui Menhan baru Mehrdad Akhlaqi. Ia langsung beri peringatan keras kepada AS dan Israel terkait potensi serangan lanjutan.

Parlemen Iran secara resmi memberikan persetujuan kepada Mehrdad Akhlaqi Ketabchi untuk menjabat sebagai Menteri Pertahanan baru Republik Islam Iran pada Minggu (18/10/2026). Penunjukan Akhlaqi dilakukan untuk mengisi kekosongan kepemimpinan menyusul tewasnya Menhan sebelumnya dalam serangan militer.

Dalam pemungutan suara yang digelar melalui sidang pleno konferensi video yang dikutip Anadolu, Senin (1910/2026), Akhlaqi berhasil mengantongi dukungan mayoritas mutlak dengan 237 suara setuju, 15 suara menolak, dan tanpa suara abstain dari total 277 suara anggota parlemen yang hadir.

Sebelum pemungutan suara berlangsung, para anggota parlemen terlebih dahulu meninjau rencana kerja strategis serta mendengarkan argumen dari kubu pendukung maupun penentang.

Akhlaqi resmi menggantikan Aziz Nasirzadeh, Menhan Iran yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026. Pasca-insiden tersebut, posisi Menteri Pertahanan sempat diisi oleh Majid Ebn al-Reza sebagai pelaksana tugas (Plt).

Ancam Sanksi Balasan dan Pertanyakan Keselamatan Pasukan AS

Segera setelah dilantik dan memperoleh kepercayaan parlemen, Akhlaqi menyampaikan vonis dan ancaman terbuka kepada Washington. Ia menegaskan, militer Iran telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi terhadap potensi penggunaan bom super-penghancur GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB) milik AS, yang kerap dipopulerkan sebagai "Mother of All Bombs" (Induk dari Semua Bom).

"Kami telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghadapi tindakan semacam itu dan terus bekerja dengan penuh keyakinan," ujar Akhlaqi tegas kepada wartawan dalam pernyataan resminya.

Ia mengklaim kesiapan pertahanan Iran menjadi alasan utama mengapa Amerika Serikat (AS) hingga kini masih menahan diri untuk tidak menggeledahkan bom mematikan tersebut ke wilayah Iran. Namun, ia memperingatkan Presiden AS Donald Trump agar mengkalkulasi ulang risiko keselamatan pasukannya sendiri jika AS nekat mengeskalasi situasi.

"Jika dia menjatuhkan satu bom, dia harus melihat berapa banyak pasukan yang harus dibawa keluar dari kawasan itu dalam posisi horizontal," cetusnya merujuk pada potensi banyaknya korban jiwa dari pihak militer AS yang pulang dalam peti jenazah.

Sebelumnya, saat berpidato di hadapan para wakil rakyat sebelum pemungutan suara, Akhlaqi juga memperingatkan adanya respons yang jauh lebih masif dan destruktif jika musuh-musuh Iran kembali melakukan agresi.

"Jika musuh Amerika-Zionis kembali melakukan kesalahan perhitungan, respons bangsa Iran dan para pejuang Islam akan mengejutkan dan luas," tegasnya seraya menegaskan bahwa AS dan sekutunya harus bertanggung jawab penuh atas dampak regional maupun global yang timbul.

Sebagai veteran dan pejabat senior yang bertahun-tahun meniti karier di Kementerian Pertahanan, Akhlaqi mengungkapkan namanya telah berada dalam "daftar target pembunuhan" pihak musuh selama lebih dari 35 tahun. Meski demikian, ia berjanji akan memperkuat jaringan yang disebut Iran sebagai "front perlawanan" (front of resistance).

Untuk program kerja utamanya, Akhlaqi berfokus pada tiga pilar utama:

1. Perluasan kapasitas produksi industri pertahanan nasional di seluruh jaringan Iran.

2. Peningkatan riset dan teknologi militer secara agresif.

3. Penyesuaian struktur Kementerian Pertahanan guna menghadapi dinamika ancaman keamanan modern saat ini.

Akhlaqi sebelumnya dikenal luas saat memimpin Organisasi Industri Dirgantara Iran (Iran's Aerospace Industries Organization). Rekam jejaknya dalam memajukan teknologi rudal Iran sempat membuatnya dijatuhi sanksi ekonomi langsung oleh pemerintah AS.

Penunjukan Mehrdad Akhlaqi sebagai Menteri Pertahanan berlangsung di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang sangat rentan pasca-serangan militer gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026, yang menewaskan mantan Menhan Aziz Nasirzadeh.

Serangan tersebut menandai puncaknya eskalasi bentrokan antara Iran dan koalisi AS-Israel terkait program nuklir, pengembangan teknologi rudal balistik, serta perselisihan supremasi regional.

Kematian pejabat penting militer Iran memaksa otoritas negara tersebut untuk terus memperkuat doktrin pertahanan dan daya tangkal (deterrence).

Penunjukan Akhlaqi, figur berlatar belakang industri dirgantara dan persenjataan teknis, mencerminkan fokus Iran untuk mempercepat produksi persenjataan mandiri. Kenaikannya juga diperkirakan dapat meningkatkan jangkauan rudal, serta memperkuat koordinasi dengan kelompok-kelompok sekutu di kawasan guna membendung potensi agresi militer susulan dari AS maupun Israel.

Sumber: investor.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with