Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Timur Tengah

Harga Minyak WTI Naik 10,4 Persen dalam Sepekan

Harga minyak WTI melonjak 10,4 persen dalam sepekan ke US$ 101,41 per barel, didorong penurunan stok dan permintaan minyak AS.

Sumber foto: Cirebon Times

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat lebih tajam dibandingkan Brent setelah pengetatan pasokan fisik dan permintaan domestik Amerika Serikat (AS) menopang pasar. Dilansir dari Investasi, WTI untuk kontrak pengiriman November 2026 ditutup naik US$ 3,44 atau 3,5% menjadi US$ 101,41 per barel pada Jumat (16/10/2026).

Harga penutupan tersebut merupakan level tertinggi WTI sejak 17 September 2026. Sepanjang pekan ini, WTI melonjak 10,4%, sedangkan Brent mencatatkan kenaikan 4,9%.

Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai penguatan WTI berkaitan dengan kondisi pasokan fisik dan permintaan di pasar domestik AS. Penurunan persediaan di pusat distribusi minyak WTI, Cushing, Oklahoma, turut mempercepat respons harga berjangka terhadap pengetatan pasokan.

Wahyu menjelaskan bahwa berkurangnya stok di pusat distribusi utama tersebut dapat meningkatkan tekanan beli dalam jangka pendek.

"Penurunan cadangan di pusat distribusi utama WTI di Cushing menciptakan tekanan beli fisik jangka pendek akibat pengetatan pasokan. Ketika stok di pusat distribusi fisik menyusut, harga berjangka WTI bereaksi jauh lebih cepat dan tajam," ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).

Selain penurunan persediaan, aktivitas kilang AS yang tinggi menjelang peralihan musim dingin ikut menyerap pasokan minyak mentah domestik. Permintaan dari pembeli luar negeri juga berpotensi meningkat ketika kilang di Eropa dan Asia mencari alternatif pasokan akibat ketidakpastian pengiriman dari Timur Tengah.

Menurut Wahyu, peningkatan permintaan terhadap minyak mentah AS berpotensi memberikan dorongan tambahan bagi WTI. Sebaliknya, kenaikan Brent menghadapi hambatan karena harganya telah berada di atas US$ 100 per barel.

Harga yang tinggi dapat mendorong pasar memperhitungkan risiko penurunan permintaan apabila biaya energi terus meningkat. Kondisi tersebut membatasi ruang penguatan Brent dibandingkan WTI yang mengalami kenaikan lebih besar dalam sepekan.

Wahyu menilai Brent menghadapi resistensi harga dan risiko pelemahan daya serap industri, sementara WTI masih berpeluang mengejar kenaikan harga yang telah dicatatkan acuan minyak lainnya.

"Pada tingkat harga tersebut, Brent menghadapi resistensi kuat dan kekhawatiran penurunan permintaan akibat harga tinggi, sehingga ruang kenaikan tambahannya lebih terbatas dibandingkan WTI yang sedang mengejar ketertinggalan," jelas Wahyu.

Untuk proyeksi hingga akhir 2026, Wahyu memperkirakan harga WTI bergerak dalam kisaran US$ 75 hingga US$ 105 per barel. Sementara itu, harga Brent diproyeksikan berada pada rentang US$ 80 hingga US$ 110 per barel.

Pergerakan kedua acuan minyak tersebut masih dipengaruhi perkembangan permintaan, ketersediaan pasokan fisik, serta dinamika pasar energi AS.

Sumber: Cirebon Times. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with