Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Iran

Trump Lontarkan Lelucon tentang Nama Mohammad saat Kampanye

Donald Trump melontarkan lelucon tentang nama Mohammad saat membahas Iran dalam kampanye Partai Republik di Georgia menjelang pemilu sela AS.

Sumber foto: bsinews.id

Jakarta, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan lelucon mengenai popularitas nama Mohammad ketika membahas kepemimpinan Iran dalam kampanye politik di Georgia pada 17 Oktober 2026. Dilansir dari Detikcom, komentar tersebut disampaikan di hadapan pendukung Partai Republik di Bandara Regional Dalton menjelang pemilihan umum sela pada 3 November.

Dalam pidatonya, Trump mengaitkan nama Mohammad dengan kemungkinan seseorang berasal dari Timur Tengah. Ia juga menggunakan lelucon tersebut untuk menyindir situasi kepresidenan Iran, tetapi para pendukung yang hadir tidak memberikan tanggapan terhadap candaan itu.

Trump menyampaikan komentarnya dengan merujuk pada pengalamannya selama bertahun-tahun menggunakan nama tersebut ketika menyapa orang yang identitasnya belum ia ketahui.

"Jika kalian ragu tentang nama seseorang dari Timur Tengah, panggil saja 'Mohammad'," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Ia kemudian menjelaskan perkiraannya mengenai kemungkinan tebakan tersebut benar dan mengklaim telah menggunakan cara itu selama bertahun-tahun.

"Peluangnya benar sekitar 65 persen. 'Halo, Mohammad.' Saya sudah melakukannya selama bertahun-tahun. Tidak pernah salah," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump juga berpura-pura bertanya kepada sejumlah orang bernama Mohammad apakah mereka ingin menduduki jabatan presiden Iran. Dalam bagian pidato yang sama, ia menyoroti situasi politik negara tersebut dengan menggambarkan jabatan presiden sebagai posisi yang tidak diminati.

"Iran adalah satu-satunya negara di mana tidak ada orang yang ingin menjadi presiden," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Retorika Trump terhadap umat Islam dan kelompok minoritas telah berulang kali menuai kritik dari organisasi pembela hak asasi manusia dan kelompok advokasi Muslim. Kritik tersebut berkaitan dengan pernyataan yang dinilai mengejek umat Islam, imigran, serta kelompok etnis minoritas.

Selama masa kampanye pemilu sela, Trump juga meningkatkan pernyataan keras terhadap warga Amerika keturunan Somalia dan komunitas Muslim. Sasaran retorikanya termasuk Abdul El-Sayed, calon Senat Amerika Serikat dari Partai Demokrat yang beragama Islam, serta Ilhan Omar, anggota DPR dari Partai Demokrat yang mewakili Minnesota dan datang ke Amerika Serikat sebagai pengungsi Somalia.

Laporan tahunan Council on American-Islamic Relations (CAIR) yang dirilis pada awal 2026 mengaitkan peningkatan Islamofobia di Amerika Serikat dengan sejumlah perkembangan politik. Laporan tersebut menyoroti kebijakan pengetatan imigrasi dan penindakan terhadap aksi protes pro-Palestina selama masa jabatan kedua Trump sebagai faktor yang berkontribusi terhadap situasi tersebut.

Sumber: bsinews.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with