Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Iran

AS Pertimbangkan Pakai Mother of All Bombs untuk Hancurkan Iran

AS telah menyusun rencana serangan baru yang mencakup kemungkinan penggunaan mother of all bombs untuk menyasar infrastruktur energi dan situs nuklir Iran.

Sumber foto: detikNews

Selama beberapa minggu terakhir, para penasihat Gedung Putih telah mengadakan serangkaian pertemuan untuk membahas berbagai opsi terkait Iran. Meskipun Trump secara terbuka menyatakan bahwa dia tidak akan mengambil tindakan baru sebelum pemilihan paruh waktu, beberapa penasihat mengatakan secara pribadi bahwa mereka tidak mengetahui apakah pernyataan tersebut bersifat final atau dapat berubah sebelum hari pemilihan.

Salah satu sumber mengungkapkan Trump telah memerintahkan militer untuk menyusun paket serangan tambahan terhadap target-target Iran serta mempertimbangkan penggunaan MOAB. Sumber yang sama menyebutkan serangan tersebut direncanakan berlangsung sebelum penarikan mundur pasukan AS di wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM).

Sumber kedua mengatakan rencana militer untuk menyerang situs nuklir Iran, termasuk lokasi yang dikenal sebagai 'Pickaxe Mountain', secara eksplisit mencakup penggunaan bom MOAB. Dalam beberapa bulan terakhir, Trump berulang kali mengancam akan menyerang lokasi yang diyakini oleh AS dan Israel sebagai lokasi penyimpanan komponen program nuklir Tehera.

Kini, muncul pertanyaan apakah MOAB merupakan amunisi yang efektif untuk digunakan terhadap fasilitas nuklir Iran maupun situs-situs lain yang terletak jauh di bawah permukaan tanah. Meskipun bom berpemandu GPS ini mampu menghancurkan area seluas sembilan blok kota, menurut sejumlah sumber, bom tersebut kemungkinan tidak memiliki kemampuan untuk menembus cukup dalam ke bawah permukaan guna menghancurkan fasilitas nuklir yang dicurigai berada di 'Pickaxe Mountain' yang diyakini diperkuat oleh lapisan batu granit.

MOAB sendiri dikembangkan selama Perang Irak. MOAB merupakan hulu ledak jenis ledakan di udara yang meledak sebelum menyentuh tanah sehingga menciptakan ledakan dahsyat ke segala arah.

Pada tahap akhir pengujian tahun 2003, pejabat militer mengungkapkan MOAB pada dasarnya dirancang sebagai senjata untuk 'operasi psikologis'. Saat itu, pejabat militer berharap ledakan yang sangat besar tersebut dapat mengguncang pasukan Irak serta menekan mereka untuk menyerah atau bahkan tidak melakukan perlawanan sama sekali.

Dalam konsep awalnya, MOAB ditujukan untuk menyasar formasi besar pasukan dan peralatan atau bungker di atas permukaan tanah yang diperkuat. Cakupan targetnya kemudian diperluas hingga mencakup sasaran yang terkubur di bawah permukaan yang lebih lunak, seperti gua atau terowongan.

Trump adalah presiden AS pertama yang mengerahkan MOAB; pada masa jabatan pertamanya, ia memberikan izin kepada militer untuk menggunakan bom non-nuklir paling kuat tersebut terhadap posisi ISIS di Afghanistan pada tahun 2017. Serangan tersebut menyasar jaringan terowongan bawah tanah yang diperkuat, yang digunakan oleh ISIS untuk melancarkan serangan terhadap pasukan pemerintah.

Menurut pejabat Afghanistan, serangan itu menewaskan 36 petempur ISIS. Pejabat Afghanistan dan AS saat itu menambahkan ledakan tersebut menghancurkan tiga terowongan bawah tanah beserta senjata dan amunisi di dalamnya, namun tidak ada warga sipil yang terluka.

Sumber: detikNews. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with