Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Palestina

Sally Rooney, Palestina, dan Kebebasan yang Diuji

Nama Sally Rooney, penulis asal Irlandia, telah lama akrab dengan pembaca sastra kontemporer. Novel-novelnya, seperti Conversations with Friends, Normal People,

Sumber foto: KBA News

Nama Sally Rooney, penulis asal Irlandia, telah lama akrab dengan pembaca sastra kontemporer. Novel-novelnya, seperti Conversations with Friends, Normal People, dan Beautiful World, Where Are You, menemukan tempat di banyak rak buku. Tokoh-tokohnya hidup dalam percakapan yang tampak sederhana, tetapi menyimpan kerumitan hubungan, kegelisahan, dan jarak antarmanusia. Normal People dicetak lebih dari satu juta copi, bahkan menyeberang ke layar kaca, menjangkau penonton yang mungkin tak pernah membaca novelnya.

Dunia sastra memberinya ruang untuk berbicara melalui tokoh-tokoh rekaan. Namun, seperti banyak penulis yang tak sanggup memisahkan seluruh hidupnya dari apa yang diyakininya, Rooney tidak berhenti pada cerita. Di luar halaman-halaman novelnya, ia menyatakan keberpihakan kepada Palestina dan mengkritik tindakan Israel di Gaza. Baginya, penderitaan manusia bukan perkara yang selesai dibicarakan setelah sebuah buku ditutup.

Sikap itu bukan sesuatu yang baru muncul kemarin. Pada 2021, Rooney menolak memberikan hak terjemahan bahasa Ibrani untuk novelnya Beautiful World, Where Are You kepada sebuah penerbit Israel yang tidak sejalan dengan pandangan politiknya. Ia mengatakan akan merasa terhormat jika novelnya diterjemahkan ke bahasa Ibrani oleh penerbit yang memiliki sikap politik serupa. Pilihan itu memperlihatkan bahwa, bagi Rooney, buku bukan semata-mata benda yang berpindah dari penulis ke pembaca. Ada pula pertanyaan tentang siapa yang menerbitkannya, nilai apa yang menyertainya, dan ke mana hasilnya akan dibawa.

Belakangan, ia menyatakan akan menggunakan pendapatan dari buku-bukunya untuk mendukung perjuangan Palestina, termasuk melalui Palestine Action. Di sinilah keyakinan pribadi itu bersentuhan dengan persoalan hukum. Pada Juli 2025, pemerintah Inggris menetapkan Palestine Action sebagai organisasi terlarang berdasarkan undang-undang antiterorisme. Dukungan terhadap organisasi yang telah dilarang itu dapat membawa konsekuensi pidana. Rooney pun menyadari bahwa pilihannya bukan lagi sekadar pernyataan politik yang bisa berlalu bersama pergantian berita.

Ketika hendak datang ke Inggris untuk menerima sebuah penghargaan, ia akhirnya membatalkan perjalanan karena khawatir akan ditangkap. Sementara itu, penerbitnya, Faber, memutuskan menghentikan distribusi karya-karyanya di Inggris. Keputusan tersebut diambil dengan persetujuan penuh Rooney setelah keduanya berkonsultasi, menyusul kekhawatiran bahwa pemenuhan kontrak penerbitan dan pembayaran royalti kepadanya dapat menimbulkan risiko hukum yang serius.

Ada sesuatu yang ganjil dalam keadaan itu. Novel-novel Rooney tidak kehilangan pembacanya, dan tidak pula berhenti menjadi karya sastra hanya karena penulisnya memiliki pandangan politik tertentu. Namun, jalan yang menghubungkan buku dengan pembacanya mendadak menyempit. Bukan karena cerita di dalamnya dinyatakan terlarang, melainkan karena urusan di luar cerita membuat penerbit harus mempertimbangkan kemungkinan berhadapan dengan hukum.

Pada titik itu, yang dipertaruhkan bukan hanya nasib seorang penulis atau kelanjutan peredaran buku-bukunya. Ada pertanyaan yang lebih jauh, sejauh mana sebuah keyakinan boleh dibawa ke ruang publik sebelum konsekuensinya merembet ke karya yang ditulis, diterbitkan, dan dibaca orang banyak? Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Tetapi sejak buku-buku Rooney berhenti beredar di Inggris, kita tahu bahwa persoalannya telah melampaui batas rak buku.

Seorang penulis mungkin tidak selalu mampu mengubah dunia melalui kalimat-kalimatnya. Tetapi ada saat ketika ia merasa tak cukup hanya menuliskan kegelisahan, lalu membiarkan buku itu berjalan sendiri menemui pembacanya. Ada sesuatu di luar halaman yang memanggilnya—sesuatu yang membuat diam terasa seperti cara lain untuk berpaling.

Barangkali di situlah Sally Rooney berdiri. Ia telah menulis tentang manusia, tentang hubungan yang renggang, tentang kedekatan yang tak selalu menyelamatkan, dan tentang dunia yang kerap membuat orang kehilangan pegangan. Kini, di luar kehidupan tokoh-tokohnya, ia berhadapan dengan pertanyaan yang tak bisa diselesaikan melalui sebuah akhir cerita, apa arti keyakinan jika seseorang hanya berani memeliharanya selama tidak ada yang harus dikorbankan?

Rooney tidak menyembunyikan jawabannya. Ia mengatakan telah berusaha sejujur mungkin kepada publik mengenai keyakinan dan niatnya, dan bersedia menerima konsekuensi dari pilihan tersebut. Kalimat itu terdengar tenang, nyaris tanpa gerak. Namun, di balik ketenangannya, ada kesediaan untuk tidak menarik kembali sesuatu hanya karena jalan yang terbuka ternyata lebih sempit daripada yang dibayangkan.

Kita tidak harus menganggap setiap pilihan Rooney sebagai sesuatu yang tak boleh dipersoalkan. Dukungan terhadap Palestina tidak serta-merta sama dengan dukungan terhadap setiap organisasi yang mengatasnamakan perjuangannya. Sikap terhadap Palestine Action pun dapat diperdebatkan. Tetapi perbedaan pendapat semestinya tidak membuat pertanyaan yang lebih mendasar kehilangan tempatnya, bagaimana sebuah masyarakat memperlakukan orang yang memilih menyatakan keyakinan yang kontroversial?

Sebab, kebebasan sering kali terasa paling lapang ketika tidak ada harga yang harus dibayar. Ia baru memperlihatkan kerumitannya ketika seseorang melangkah melewati batas kenyamanan, ketika pendapat tidak lagi berhenti sebagai percakapan, dan ketika keyakinan mulai bersentuhan dengan kepentingan, aturan, serta kekuasaan. Pada saat itulah kita mengetahui apakah kebebasan sungguh menjadi bagian dari kehidupan bersama atau hanya terdengar indah selama tidak mengganggu siapa pun.

Barangkali yang paling getir dari kisah Rooney ialah kenyataan bahwa sebuah buku dapat tetap utuh, sementara jalan menuju pembacanya berubah. Kalimat-kalimatnya tidak serta-merta kehilangan makna. Tokoh-tokohnya tidak mendadak menjadi orang asing. Namun, hubungan antara buku dan dunia di luarnya telah berubah, seolah-olah sesuatu yang semula berjalan biasa kini harus melewati pintu yang lebih sempit.

Seorang penulis tentu berhak memilih apa yang hendak ia bela, sebagaimana masyarakat berhak memperdebatkan pilihannya. Negara pun memiliki kewajiban menjaga keamanan. Tetapi di antara hak, perbedaan, dan kekuasaan itu, selalu ada satu hal yang perlu dijaga, agar hukum tidak membuat ruang bagi pikiran yang berbeda menjadi begitu sempit sehingga orang mulai mengukur setiap kalimat bukan dari kebenarannya, melainkan dari ketakutan akan akibatnya.

Sally Rooney bukan satu-satunya penulis yang mendapati bahwa kehidupan sastra tak selalu menyediakan ruang yang lapang bagi suara Palestina. Pada Oktober 2023, Adania Shibli, novelis Palestina yang karyanya Minor Detail mendapat perhatian luas, semestinya menerima LiBeraturpreis di Frankfurt Book Fair. Namun, upacara penghargaan itu ditunda oleh penyelenggara di tengah perang Israel–Hamas. Shibli sendiri tidak menyetujui keputusan tersebut. Penghargaannya tidak dicabut, tetapi kesempatan untuk merayakannya di hadapan publik menghilang dari panggung yang telah disiapkan.

Beberapa tahun kemudian, di Australia, Randa Abdel-Fattah mengalami perkara yang berbeda, tetapi menyisakan kegelisahan serupa. Penulis dan akademisi keturunan Palestina itu dikeluarkan dari daftar peserta Adelaide Writers’ Week 2026. Keputusan tersebut memicu penarikan diri banyak penulis, pengunduran diri jajaran pengelola, dan akhirnya pembatalan seluruh acara tahun itu. Sebuah panggung yang semestinya mempertemukan beragam pikiran justru kehilangan bentuknya setelah satu nama disingkirkan.

Ketiga kisah itu tidak sepenuhnya sama. Rooney berhadapan dengan risiko hukum yang berimbas pada peredaran buku-bukunya di Inggris; Shibli kehilangan kesempatan menerima penghargaan dalam sebuah upacara; sementara Abdel-Fattah tersisih dari sebuah perhelatan sastra. Tetapi ada sesuatu yang menghubungkan mereka: ketika suara Palestina menjadi bagian dari perdebatan politik, ruang sastra yang seharusnya menampung keragaman pun ikut menanggung ketegangan itu. Buku dan panggung tidak lagi sepenuhnya berdiri di luar perkara yang sedang dipertengkarkan dunia.

Barangkali sastra memang tidak pernah benar-benar berada di luar politik. Ia lahir dari manusia, dan manusia membawa sejarah, luka, keyakinan, serta keberpihakannya masing-masing. Namun, sastra memiliki satu kebiasaan yang patut dipertahankan, ia memberi tempat bagi pengalaman untuk diceritakan, bagi suara untuk didengar, dan bagi pembaca untuk menimbang tanpa harus lebih dahulu diminta sepakat. Ketika tempat itu menyempit, yang hilang bukan hanya kesempatan seorang penulis untuk berbicara. Kita pun kehilangan kesempatan untuk mendengarkan, memahami, dan mungkin mengubah cara kita memandang dunia. **

Sumber: KBA News. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with