Konsisten Kawal Usulan Rahadi Osman Sebagai Pahlawan Nasional
Menjelang peringatan Hari Pahlawan ke-81 pada 10 November 2026, diskursus mengenai sosok-sosok pejuang daerah yang belum memperoleh pengakuan sebagai Pahlawan Nasional kembali mengemuka. Salah satu nama yang menjadi perhatian adalah...

Pontianak – Menjelang peringatan Hari Pahlawan ke-81 pada 10 November 2026, diskursus mengenai sosok-sosok pejuang daerah yang belum memperoleh pengakuan sebagai Pahlawan Nasional kembali mengemuka. Salah satu nama yang menjadi perhatian adalah almarhum Rahadi Osman, pejuang muda asal Kalimantan Barat yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan pada usia 20 tahun.
Dalam kajian akademiknya, Syafaruddin Daeng Usman, selaku penulis dan pengkaji Naskah Akademik Calon Pahlawan Nasional (Capahnas) Rahadi Osman, menilai perjuangan tokoh asal Pontianak tersebut tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga memenuhi dimensi keteladanan, integritas, serta kontribusi kebangsaan yang menjadi indikator penting dalam pengusulan gelar Pahlawan Nasional. Menurut Syafaruddin, sejarah perjuangan nasional selama ini masih didominasi narasi dari Pulau Jawa, sementara banyak tokoh dari daerah yang memiliki kontribusi strategis belum memperoleh tempat yang proporsional dalam historiografi Indonesia.
"Rahadi Osman adalah representasi pejuang muda dari Kalimantan Barat yang mempertaruhkan hidupnya pada masa-masa paling menentukan bagi Republik. Pengorbanannya tidak boleh berhenti sebagai catatan lokal, tetapi harus menjadi bagian dari memori kolektif bangsa," ujarnya di Pontianak, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Rahadi Osman lahir di Pontianak pada 1 Agustus 1925. Ketika Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, ia memilih bergabung dalam barisan perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari upaya kembalinya kekuasaan kolonial di Kalimantan Barat.
Berdasarkan berbagai sumber sejarah yang menjadi bahan penyusunan naskah akademik, Rahadi Osman aktif membangun jaringan perjuangan bersama sejumlah tokoh Angkatan 45. Ia tercatat memiliki hubungan perjuangan dengan Subianto Djojohadikusumo, paman dari Presiden RI Prabowo Subianto, serta Chairul Saleh, tokoh revolusi yang legendaris dan kemudian menjabat Wakil Perdana Menteri Republik Indonesia serta Adam Malik yang pernah menjabat Menteri Luar Negeri dan terakhir sebagai Wakil Presiden RI.
Bagi Syafaruddin, fakta tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan Rahadi Osman tidak berlangsung secara terisolasi, melainkan menjadi bagian dari gerakan nasional yang menghubungkan Kalimantan dengan pusat-pusat perjuangan republik. Yang menarik, kata Syafaruddin, Rahadi Osman juga memahami pentingnya perang informasi. Pada masa revolusi fisik, radio bukan sekadar alat komunikasi, tetapi instrumen strategis untuk menyebarluaskan berita kemerdekaan sekaligus melawan propaganda kolonial.
"Perjuangan tidak hanya dilakukan dengan senjata. Informasi adalah bagian dari strategi revolusi. Rahadi Osman memahami bahwa mempertahankan kemerdekaan juga dilakukan melalui penyebaran informasi yang benar kepada masyarakat," kata Syafaruddin.
Perjuangan itu berakhir pada 7 Desember 1945. Rahadi Osman gugur dalam pertempuran di kawasan Sungai Besar, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Saat itu usianya baru menginjak 20 tahun. Gugurnya terjadi hanya beberapa bulan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Dalam perspektif kajian akademik, kematian Rahadi Osman di medan juang menjadi salah satu bukti nyata pengorbanan total bagi bangsa dan negara. Ia tidak pernah tercatat menyerah kepada musuh hingga akhir hayatnya.
Syafaruddin menilai, nilai utama dari perjuangan Rahadi Osman bukan semata-mata keberaniannya di medan tempur, tetapi keteladanan moral yang diwariskan kepada generasi penerus. Sosoknya menunjukkan bahwa usia muda bukan penghalang untuk mengambil tanggung jawab besar dalam menentukan masa depan bangsa.
Menurutnya, pengusulan Rahadi Osman sebagai Pahlawan Nasional bukan sekadar penghargaan terhadap seorang individu, melainkan bentuk keadilan sejarah bagi Kalimantan Barat yang memiliki banyak pejuang dalam mempertahankan Republik Indonesia.
Momentum HUT ke-81 Hari Pahlawan, lanjut Syafaruddin, menjadi waktu yang tepat untuk menghadirkan kembali narasi perjuangan tokoh-tokoh daerah agar generasi muda memahami bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun oleh pengorbanan anak bangsa dari seluruh penjuru Nusantara.
"Pengakuan terhadap Rahadi Osman akan memperkaya sejarah nasional sekaligus memperkuat identitas kebangsaan. Semangat nasionalisme yang diperlihatkannya tetap relevan di tengah tantangan Indonesia hari ini," ucapnya.
Kajian akademik yang disusun Syafaruddin menyimpulkan bahwa Rahadi Osman memiliki rekam jejak perjuangan yang memenuhi unsur keberanian, pengabdian tanpa pamrih, integritas, dan pengaruh terhadap perjuangan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia. Karena itu, usulan pemberian gelar Pahlawan Nasional dinilai memiliki dasar historis dan akademis yang kuat.
Di usia ke-81 Republik Indonesia, kisah Rahadi Osman menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari pengorbanan para pemuda yang rela mengorbankan masa depan bahkan nyawanya demi berkibarnya Merah Putih. Dari Pontianak hingga Ketapang, jejak perjuangannya terus hidup sebagai simbol keberanian dan nasionalisme dari Bumi Khatulistiwa.
Sumber: RRI.co.id. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Festival Berlabuh Deli Serdang Tembus 125 Besar Event Nasional
Berawal dari inisiatif para alumni Duta Wisata sejak 2023, Festival Budaya Berlabuh di Deli Serdang terus berkembang hingga masuk dalam 125 besar Karisma Event...
Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan serangkaian arahan tegas dan peringatan keras kepada AS dan Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah memerintahkan militer untuk memperbarui daftar target AS dan Israel serta bersiap untuk menanggapi ancaman apa pun, tanpa memandang...
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Prabowo Terima 250 Anggota Kadin di Hambalang
Prabowo menerima 250 anggota Kadin dan 400 peserta P3MDI di Hambalang. Pertemuan membahas investasi domestik dan pengembangan industri masa depan.